Tanya-Jawab Sejarah Kolonial (2)


Pada zaman kolonialisme, dasar-dasar hubungan negara dan rakyat tidak pernah terbentuk. Akibatnya negara kolonial membiarkan kelompok sosial tidak bersingungan sehingga muncul kesenjangan yang sangat lebar dalam masyarakat. Kesenjangan-kesenjangan semacam itu justru dilestarikan oleh pemerintah Belanda, karena pemerintah tidak menginginkan tumbuhnya pemikiran kebangsaan. Jelaskan pendapat saudara (a) bagaimana cara-cara pemerintah kolonial menciptakan kesenjangan-kesenjangan di berbagai bidang kehidupan, dan (b)bagaimana pula cara tokoh-tokoh bangsa kita menghadapi kebijakan kolonial tersebut di atas.

Jawab

Sistem birokrasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda menerapkan sistem direct rule (pemerintahan langsung) sekaligus indirect rule (pemerintahan tidak langsung). Di samping para pejabat Belanda seperti Gubernur, Residen, asisten Residen, Kontrolir, aspiran kontrolir sebagai direct rule atau yang disebut sebagai Binnendlands Bestuur (BB), di satu sisi terdapat pejabat-pejabat pribumi yang terdiri atas para bupati, patih, wedana, dan lain-lain yang disebut sebagai inlandsch bestuur atau pangreh praja (PP) yang berasal dari para pengusa setempat dari kerajaan-kerajaan tradisional. Hal ini meruapakan bentuk dualisme dalam pemerintahan. Kebijakan ini memunculkan kesejangan di kalangan masyarakat, bahwa mulai ada diferensiasi di kalangan masarakat, yakni ada golongan pribumi dan golongan orang-orang eropa. Diferensiasi merupakan perbedaan masyarakat secara horizontal akibat perbedaan ras, jenis kelamin, agama, profesi, klan, dan lain sebagainya. Pada masa kolonial, diferensiasi disebabkan oleh ras seseorang. Hal ini disebabkan ras menentukan kedudukan masyarakat. Pada masa kolonial, golongan-golongan dalam masyarakat itu tebagi menjadi tiga, yakni (1) golongan belanda atau eropa, (2) golongan timur asing, dan (3) golongan probumi.

Golongan Belanda dan Eropa merupakan salah satu kelompok sosial baru yang ada setelah berkembangnya imperialisme dan kolonialisme di Indoesia. Bangsa Eropa ini menempati posisi-posisi yang penting pada saat terjadi imperlialisme di Indonesia. Golongan-golongan ini terdiri atas (1) Bangsa Belanda dan keturunannya, (2) bangsa-bangsa Eropa lainnya seperti Portugis, Perancis, Inggris, dan lain sebagainya, serta (3) orang-orang bangsa lain (bukan Eropa) yang telah dipersamakan dengan Eropa karena kekayaan, keturunan bangsawan, pendidikan.

Golongan timur asing pada saat kekuasaan pemeritah kolonial ini terdiri atas masayarakat yang berasal dari bangsa Cina, India, dan Arab. Golongan timur asing ini telah datang ke kawasan Nusantara jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa dan telah melakukan interaksi dengan masyarakat pribumi dalam bidang perekonomian, khususnya perdagangan. Pasa saat pemerintahan kolonial, mereka memiliki kedudukan yang istimewa. Mereka memegang posisi yang strategis dalam bidang perekonomian.

Golongan pribumi pada dasarnya adalah golongan yang memiliki hak atas kepemilikan negeri. Hal ini disebabkan golongan pribumi telah turun-temurun mendiami dan mengolah alam di Nusantara. Pada saat penguasaan  kolonial di Nusantara, golongan pribumi menjadi korban penindasan. Golongan ini memiliki status sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan golongan-golongan lainnya.

Selain itu, pada praktiknya, pemerintah kolonial menerakan sistem beambtenstaat, yakni suatu negara di mana politik dianggap tabu dan negara hanya alat dari prinsip-prinsip administratif yang masuk akal dan sehat, di mana saingan antara berbagai kepentingan sosial yang saling berkonflik sebanyak mungkin dianggap tidak ada. Beambtenstaat merupakan negara yang apolitis di mana politiadalah pertama-tama hanya sebuah alat untuk mewujudkan pemerintan yang kokoh dan bukannya alat untuk mewujudkan tuntutan-tuntutan sosial yang bersaingan. Partai-partai dan berbagai organisasi hanya diperbolehkan berdiri di kota-kota. Akibatnya adalah tidak ada proses advokasi yang dilakukan terhadap masyarakat desa karena keterbatasan akses yang telah dirancang sedemikian rupa.

Namun demikian, pada perkembangannya, akibat perubahan dalam aspek pandngan politik di parlemen Kerajaan Belanda mulai dikenalkan politik etis yang membuka akses bagi kalangan pribumi untuk mendapatkan pendidikan. Hal ini kemudian memunculkan tokoh-tokoh nasionalis. Tokoh-tokoh nasionalis ini melakukan upaya perlawanan dengan menggunakan strategi organisasi. Mereka membentuk organisasi-organisasi pergerakan untuk melakukan perlawanan tehadap pemerintahan kolonial. Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, dan berbgai organisasi lainnya merupakan bentuk aktualisasi dari para tokoh nasionalis dalam melakukan perjuangan menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial.

Dalam perspektif teoretik memberi ruang gerak pada para perempuan pada masa revolusi kemerdekaan merupakan kesetaraan, yang bila dianalisis secara lebih mendalam bangsa kita lebih maju dibandngkan dengan bangsa Timur Tengah maupun bangsa Amerika. Jelaskan pendat saudara.

Jawab
Anton Lucas dan Robert Cribb menulis sebuah tulisan berjudul “Peran Wanita dalam Revolusi Indonesia: Sebuah Renungan Sejarah”. Tulisan ini sebagai makalah dalam konferensi internasional tentang revolusi nasional pada tahun 1995. Anton Lucas dan Robert Cribb (1997) merangkum berbagai bentuk kesaksian yang dituliskan oleh para mantan pejuang wanita. Dalam kurun waktu lima tahun perjuangan revolusi antara tahun 1945 dan 1949, peranan wanita menjadi bertambah luas. Hal ini karena peraturan etika dan perilaku sosial antar jenis telah menjadi semakin terbuka dan menjadi kurang formal. Kekacauan politik dan sosial yang terjadi pada masa revolusi memberikan kesempatan wanita untuk bertindak dalam berbagai aktivitas. Peranan mereka dalam masyarakat telah bertambah luas, dan mereka sering kali harus memikul tanggung jawab baru yang dilemparkan di pundak mereka.

Peran wanita dalam revolusi terlihat dari aktivitasnya dalam organisasi pemuda. Ada beberapa organisasi yang hanya mengkhususkan hanya beranggotakan wanita. Organisasi itu pada umumnya berbasis di kota dan menghimpun para wanita yang berpendidikan yang tinggal di kota besar, terutama di Surakarta dan Yogyakarta. Di kota-kota besar seperti Surabaya gadis-gadis yang masih duduk di sekolah lanjutan atas bekerja sebagai anggota palang merah Indonesia yang baru dibentuk. Selain itu ada pula wanita yang ikut serta dalam perjuangan.

Selanjutnya berkaita dengan aktivitas wanita dalam revolusi Anton Lucas dan Robert Cribb menjelaskan bahwa ada wanita yang merasa menjadi bagian dari revolusi karena apa yang dilakukan oleh suami mereka, yang lainnya adalah karena mereka tidak memiliki tanggung jawab keluarga, sehingga dapat ikut serta dalam perlawanan revolusi dalam bentuk yang lebih langsung. Banyak wanita di Jawa yang ikut serta dalam perjuangan harus meninggalkan rumah tangga mereka dengan segera, membawa anak-anak mereka berjalan kaki, pada saat Belanda secara berangsur-angsur  memperluas daerah pendudukan mereka di Jawa. Banyak wanita dan anak-anak yang mengalami penderitaan seperti ini di seluruh pulau Jawa. Pada masa itu, wanita juga melahirkan anak-anak, mencoba memberi makan keluarga ketiga berpindah-pindah, mengganti pakaian kain batik dengan pakaian yang lebih praktis yang terbuat dari kain blacu, mengubah tatanan rambut mereka, serta menggulangi tragedi-tragedi yang amat menyedihkan seperti kematian bayi dan balita, atau meninggalnya orang tua. Pada saat persediaan dapat dikatakan tidak ada sama sekali.

Adanya hal tersebut menunjukkan bahwa pada masa revolusi telah terjadi perubahan dan berkembang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan walaupun. Ada sebagian wanita yang ikut melakukan perjuangan, bahkan secara fisik. Kesetraan yang muncul disebabkan pada masa itu, kita tengah menghadapi common enemy, sehingga membutuhkan peran serta dari segala pihak tanpa memandang statusnya. Hal ini tentu saja lebih maju dibandingkan dengan wanita pada bangsa Timur Tengah bahkan di Amerika. Wanita-wanita Indonesia memiliki kemampuan untuk beradaptasi yang tinggi terhadap situasi seperti ini.

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

2 responses to “Tanya-Jawab Sejarah Kolonial (2)

  • 08113

    pak mau tanya,,,,
    bedanya sejarah kontrovesial dengan kapita selekta sejarah itu apa???
    trimakasih sebelumnya,,

    • tsabitazinarahmad

      jelas beda, kapita selekta merupakan pilihan tema-tema sejarah yang berbeda. biasanya merupakan kompilasi dari beberapa tema tulisan sejarah. kalau sejarah kontroversial adalah tulisan sejarah yang memiliki beberapa perspektif atau versi. jadi memang konsep yang berbeda. kalau ada istilah kapita selekta sejarah kontroversial berarti beberapa tema tulisan yang berbeda-beda dalam sejarah kontroversial.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.815 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: