PKI terlibat G 30 S?


presentasi tentang PKI di IAHA

Pertanyaan yang paling sering muncul ketika membahas peristiwa penculikan dan pembunuhan pimpinan Angkatan Darat tahun 1965 adalah “apakah PKI benar-benar terlibat dalam Gerakan 30 September?” Pertanyaan inilah yang menjadi alasan mengapa saya harus melakukan kajian tentang Partai Komunis Indonesia. Dengan sumber utama surat kabar resmi PKI, Harian Rakjat edisi 2 Oktober 1965 dan beberapa referensi pembanding, saya mencoba menelusuri jawaban tentang keterlibatan PKI dalam G 30 S. Setelah beberapa bulan melakukan penelusuran dan analisis terhadap sumber-sumber yang terpercaya, akhirnya jadilah sebuah artikel berjudul “The Last Defense of Partai Komunis Indonesia: Harian Rakjat Issues After Gerakan 30 September“. Pada konferensi sejarawan se-Asia di Solo, hasil penelitian itu saya paparkan.

Dugaan Keterlibatan Kudeta

Keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) muncul sebagai versi resmi sejarah nasional Indonesia.  Salah satu alasan yang menguatkan pendapat PKI sebagai penggagas peristiwa G 30 S adalah dukungannya terhadap gerakan penculikan yang dipimpin Letkol Untung. Dukungan itu tampak pada surat kabar Harian Rakjat (HR), media resmi PKI. HR dianggap sebagai bukti keterlibatan PKI dalam peristiwa G 30 S. Pada edisi 2 Oktober 1965 dukungan HR tampak pada berita utama, tajuk rencana, wacana pojok, dan kartun.  Ia muncul pada saat seluruh surat kabar di seluruh Jakarta dilarang terbit oleh Pangdam Jaya, Umar Wirahadikusumah, kecuali Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata.

Namun demikian, HR ternyata tidak hanya menunjukkan dukungan terhadap G 30 S. Ia muncul sebagai media pembelaan PKI tentang ketidakterlibatannya dalam penculikan dan pembunuhan pimpinan Angkatan Darat. Akan tetapi, belum banyak ulasan yang melihat HR sebagai pembelaan PKI terhadap pandangan dan ideologinya. Terlepas dari perdebatan keasliannya, banyak bagian dalam edisi pamungkasnya berusaha membatasi jarak antara PKI dan peristiwa G 30 S.

Harian Rakjat edisi 2 Oktober 1965 merupakan edisi pamungkas terbitan PKI.  Edisi ini juga merupakan terbitan yang paling kontroversial dari berbagai edisi lainnya. Hal ini karena sampai saat ini masih muncul pertanyaan “mengapa HR edisi 2 Oktober terbit sementara surat kabar lain di ibukota dilarang?” Jawaban yang beragam muncul terkait alasan HR terbit pada saat seluruh surat kabar di Jakarta dilarang, kecuali Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata. Tidak mengherankan apabila muncul spekulasi bahwa edisi ini merupakan rekayasa TNI AD untuk menyeret PKI sebagai aktor intelektual di balik G 30 S.

Masalah dalam HR

Wacana-wacana yang disampaikan Harian Rakjat menunjukkan sikap partai terhadap G 30 S. Di dalamnya kita tidak menemui keterkaitan secara langsung antara PKI dan G 30 S. Pesan yang paling dominan muncul dalam HR edisi 2 Oktober yang mengalami pengulangan lebih dari enam kali adalah pesan tentang ketidakterlibatan PKI dalam G 30 S. Ini ditampilkan dengan pengulangan pesan bahwa G 30 S adalah gerakan internal dalam Angkatan Darat.

Permasalahan ini memunculkan satu pertanyaan yang belum terjawab. Jika PKI tidak terlibat dalam G 30 S, mengapa mereka justru mendukung gerakan tersebut. Sikap PKI yang reaksioner terhadap G 30 S disebabkan beberapa hal. Pertama, rivalitas antara PKI dan TNI yang telah berlangsung lama menyebabkan PKI memandang bahwa G 30 S merupakan konflik internal AD adalah sebuah momentum untuk melanjutkan perjuangan dan muncul sebagai kekuatan yang dekat dengan Sukarno. Konflik internal AD telah menghilangkan kekuatan penghalang bagi perkembangan PKI. Kedua, PKI perlu segera memberikan sikap terhadap peristiwa besar tersebut. Sikap yang dianggap sesuai adalah dukungan bagi G 30 S. Ini karena isu yang berkembang adalah ada Dewan Jenderal yang menjadi antek CIA. Oleh karena itu, PKI segera memberi dukungan pada gerakan yang bertujuan melawan CIA.

Permasalahan lain yang muncul adalah tentang alasan penerbitan HR 2 Oktober. Penulis menduga ada dua hal penting yang mendorong PKI tetap menerbitkan HR edisi 2 Oktober. Pertama, PKI perlu secara cepat menyatakan sikap dan memberi instruksi pada seluruh anggotanya di berbagai daerah. Pernyataan ini dianggap perlu untuk menyamakan persepsi anggota-anggota PKI tentang G 30 S. Upaya ini dilakukan dengan menerbitkan surat kabar resminya. Kedua, pihak militer sengaja membiarkan edisi terakhir beredar karena beberapa isinya justru dukungan terhadap G 30 S. Penulis menduga militer dapat memanfaatkan ini kemudian hari sebagai bukti keterlibatan PKI dalam G 30 S. Pada kenyataannya, hal ini terbukti benar, bahwa militer memanfaatkan HR sebagai bukti keterlibatan PKI dalam G 30 S.

Penulis melihat ada beberapa kelemahan pada HR edisi 2 Oktober 1965. Pertama, PKI terlalu reaktif dan emosional dalam mengemukakan pendapatnya tentang G 30 S. Hal ini karena pada saat yang bersamaan pimpinan redaksi sebagai penentu kebijakan tidak berada di tempat, sehingga HR muncul tanpa pembacaan situasi yang cermat. Kedua, sikap HR yang tergesa-gesa dalam menuliskan wacana menandakan belum dilakukan pembacaan situasi dengan tepat dan ketidaksiapannya dalam menghadapi G 30 S. Hal ini menguatkan tesis bahwa bukan PKI sebagai lembaga yang merencanakan G 30 S, tetapi hanya beberapa orang saja.

Simpulan

Harian Rakjat tanggal 2 Oktober sebagai media resmi PKI memiliki beberapa makna penting. Pertama, HR menyampaikan pesan bahwa PKI tidak terlibat dalam G 30 S karena masalah tersebut adalah persoalan internal angkatan darat. Kedua, HR memberikan dukungan pada G 30 S sebagai sebuah gerakan penyelamatan Sukarno. Ketiga, wacana HR yang disusun dengan tergesa-gesa tanpa pembacaan yang cermat menunjukkan bahwa tidak semua anggota PKI memahami permasalahan. Dengan demikian, secara kelembagan, PKI tidak memahami permasalahan seputar G 30 S. Tampaknya ini adalah proyek pribadi segelintir elite PKI saja. Terbitnya HR edisi 2 Oktober merupakan hal yang wajar sebagai upaya PKI untuk mengambil momentum perpecahan Angkatan darat sekaligus memberikan instruksi pada seluruh anggotanya untuk berhati-hati dan bersiap menghadapi perubahan pasca G 30 S. [tsabit]

About these ads

Tentang tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua tulisan milik tsabit.azinar.ahmad

8 responses to “PKI terlibat G 30 S?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.814 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: