Pendidikan Sejarah: Out of Context!


Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya.” (Winston Churchill)

Dalam praksis pendidikan, kebermaknaan pembelajaran dicapai melalui pengaitan materi dengan konteks yang terjadi di sekitar siswa. Konteks mencakup fenomena di masyarakat, peristiwa aktual, permasalahan sosial, isu hangat yang tengah berkembang, jiwa zaman, dan perkembangan keilmuan mutakhir. Khusus dalam pendidikan sejarah, konteks dapat berupa peristiwa sejarah lokal di daerah sekitar lingkungan siswa.

Pentingnya konteks dalam pembelajaran menjadi perhatian khusus dari critical pedagogy atau pedagogik kritis. Pedagogik kritis memosisikan kontekstualisasi sebagai salah satu kata kunci. Kontekstualisasi diperlukan agar terwujud sebuah keterhubungan, kesepahaman, dan keterpautan secara kritis antara pendidikan dengan isu-isu sosial, serta bagaimana memaknainya.

Dalam pedagogik kritis ditekankan proses refleksi dan aktualisasi. Di dalam tahap refleksi dipertanyakan “mengapa sesuatu itu bisa terjadi”. Tahap aktualisasi merupakan proses pencarian alternatif pepecahan masalah. Pada tahap ini dipertanyakan “bagaimana keterkaitan dengan kehidupan di sekitar saya?”, “bagaimana harus menyikapi permasalahan tersebut?”

Tahap penghubung antara refleksi dan aktualisasi adalah kontekstualisasi. Proses ini menghubungkan antara teori dan praksis, antara konsep dan tindakan nyata. Pengaruhnya, pendidikan menjadi peka terhadap berbagai permasalahan. Dengan demikian, pendidikan mampu memberikan pencerahan (enlightening) dan pemberdayaan (empowering).
Out of Context

Kontekstualisasi menjadi bagian penting tidak hanya dalam pedagogik kritis, tetapi dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Pada pendidikan sejarah, kontekstualisasi dilakukan dengan mengaitkan materi dengan perkembangan penulisan sejarah (historiografi) dan kondisi masyarakat.

Keterkaitan antara materi dengan historiografi artinya mengakomodasi perkembangan wacana kesejarahan mutakhir. Fakta-fakta sejarah terbaru hendaknya menjadi wacana yang diakomodasi dalam kelas sejarah. Hal ini bertujuan agar pelajar mampu berpikir dan bersikap kritis terhadap wacana-wacana sejarah yang tengah berkembang.

Kemudian, pengaitan materi dengan kondisi masyarakat artinya mencoba melihat realitas yang berkembang di masyarakat. Realitas sangat terkait dengan tradisi yang berkembang di masyarakat, wacana di media, dan jiwa zaman (zeitgeist) di mana masyarakat itu berada. Ragam sejarah lokal dan isu-isu hangat yang tengah berkembang merupakan konteks yang lekat dalam masyarakat.

Namun demikian, kenyataan yang jamak terjadi adalah materi selalu terpaku pada buku teks. Akibatnya, penjelajahan terhadap luasnya rimba keilmuan sejarah dan perkembangan dalam masyarakat tidak terjadi. Contohnya pada materi sejarah kontroversial. Kecenderungan yang muncul adalah keengganan di kalangan pendidik untuk mengeksplorasi sejarah kontroversial. Pendidik lebih memilih untuk “bermain aman” dalam pembelajaran.

Pada materi yang mengulas peristiwa G 30 S tahun 1965 misalnya, pendidikan di kelas belum mengakomodasi perkembangan wacana kesejarahan mutakhir. Versi yang beragam, baik versi PKI, klik TNI AD, Soeharto, Sukarno, ataupun CIA belum diulas secara optimal.

Peristiwa sesudah G 30 S, yakni pembantaian massal anggota PKI tidak mendapat tempat dalam struktur kurikulum. Selain itu, banyak tokoh dihilangkan dalam pendidikan kita, seperti Tan Malaka dan A.M. Hanafi. Kiprah dan peran serta tokoh-tokoh itu belum banyak diketahui oleh siswa.

Hal di atas tidak senafas dengan perkembangan historiografi yang saat ini tengah berkembang pesat. Setelah reformasi, historiografi Indonesia mengalami fase baru. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai gelombang ketiga historiografi Indonesia. Fase ini menurut Asvi Warman Adam ditandai dengan adanya penulisan sejarah “terlarang”, penerbitan karya-karya akademis, dan biorgafi tokoh-tokoh terbuang. Dengan demikian, sejarah kita makin dinamis pascareformasi.

Contoh lain out of context-nya pembelajaran sejarah adalah tidak diakomodasinya wacana sejarah lokal di dalam kelas secara optimal. Sejarah lokal merupakan identitas masyarakat dalam lokalitas tertentu. Contohnya adalah peristiwa-peristiwa penting dan perkembangan masyarakat di sekitar pelajar, tokoh-tokoh lokal, legenda-legenda, peran daerah dalam peristiwa yang lebih besar, serta berbagai peninggalan sejarah yang ada di sekitar pelajar. Pembelajaran sejarah masih banyak berkutat pada materi-materi sejarah nasional dan masih terjebak dalam pandangan yang bernuansa Jawasentris.

Di daerah Semarang,sejarah lokal yang masih luput dalam pembelajaran, misalnya sejarah kedatangan Laksamana Cheng Ho, peran Semarang dalam Islamisasi, dan perkembangan kota pada masa colonial. Hal yang sama juga terjadi di daerah lain. Upaya eksplorasi peran daerah dalam sebuah peristiwa sejarah yang lebih besar atau dalam sejarah nasional masih belum diangkat secara optimal.

Belum diakomodasinya wancana kesejarahan mutakhir dan minimnya penjelajahan terhadap sejarah lokal menyebabkan peran pendidikan sebagai sarana pengembangan kesadaran sejarah menjadi mandul. Akibatnya tidak muncul satu penghayatan pada makna dan hakikat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang.

Sebuah tanggung jawab yang besar bagi masyarakat, terutama bagi pendidik sejarah untuk mewujudkan sejarah yang bermakna. Oleh karena itu, perlu komitmen yang kuat, keberanian, dan kreativitas bagi pendidik untuk menunjang pelaksanaan pendidikan sejarah yang kontekstual.

Perubahan yang mendasar sangat diperlukan dalam praksis pendidikan sejarah kita. Sudah saatnya nasionalisme sebagai muara pendidikan sejarah tidak dibangun atas dasar mitos, tetapi berdasar nalar dan sikap kritis dalam melihat realitas. Caranya adalah dengan mengakomodasi perkembangan yang mutakhir historiografi dan menghadirkan konteks yang terjadi masyarakat dalam kelas.

Dengan demikian, pendidikan sejarah menadi bersifat kontekstual. Sehingga, ia mampu menjadi sarana pemecahan masalah yang ada di sekitar kita sekaligus memberi bekal kesadaran kritis bagi manusia-manusia muda Indonesia.

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: