Perkembangan Kiri Sarekat Islam


Soe Hok Gie mencatat beberapa peristiwa yang menyebabkan gerakan SI Semarang makin radikal. Pertama, adanya permasalahan kebijakan agraria yang menyebabkan kemiskinan di kalangan rakyat.  Kedua, menjangkitnya wabah pes di Semarang akibat lingkungan yang buruk menyebabkan adanya kebijakan “sapu bersih” bagi permukiman warga yang diduga menjadi tempat hidup tikus. Pembersihan itu dilakukan dengan cara pembakaran, sehingga menyebabkan rakyat tidak memiliki tempat tinggal. Ketiga, adanya wacana pembentukan Indie Werebaar (pertahanan Hindia) yang dibahas dalam konstituante menyebabkan munculnya reaksi keras bagi kalangan kiri untuk menentangnya, termasuk Semaoen dan SI Semarang. Keempat, Persdelick Sneevliet yang telah mempertajam pengertian para kader secara teoretis tentang masalah penjajahan.  Kondisi-kondisi tersebut menjadi katalis yang mempengaruhi arah gerak SI Semarang kea rah sosialisti revolusioner.

Dalam perkembangannya SI Semarang memiliki media gerak bernama harian Sinar Hindia yang kemudian berubah nama menjadi Sinar Djawa. Harian ini menjadi senjata bagi SI Semarang untuk mengemukakan gagasan dan memperkenalkan pemikiran berhaluan kiri pada masyarakat luas. Dalam harian itu Semaoen bertindak sebagai pemimpin redaksi sekaligus redaktur politik.

Gerakan kiri di SI semakin menguat. Pada kongres kedua CSI pada Oktober 1917, di mana separuh peserta telah sepakat dengan gagasan Semaoen untuk menolak Indie Weerbaar. Setelah itu pada akhir 1917, SI Semarang mulai melancarkan gerakannya yang berhaluan kiri, yakni dengan melancarkan gerakan pemogokan, perjuangan terhadap tuan-tuan tanah yang memeras penduduk desa di tanah pertikulir, serta aktif menentang pemerintah/kapitalis.  Dalam perkembangannya SI berupaya untuk mengorganisasikan buruh-buruh di kota.

Pada Kongres Nasional Central Sarekat Isalm ke-3 yang diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 29 September sampai 6 Oktober 1918, peserta kongres mendukung Semaoen dan sikap sosialismenya. Mereka menyepakati keputusan kongres menentang pemerintah dalam tindakannya melindungi kapitalisme dan Sarekat Islam akan mengorganisir kaum buruh. Mereka memilih Semaoen menjadi komisaris Central Sarekat Islam Jawa Tengah. Sejak itu, Semaoen giat mengorganisir buruh-buruh yang berlimpah di Semarang untuk membantu perbaikan nasib lewat pemogokan. Selain mengadakan aksi-aksi praktis, Sarekat Islam Semarang juga membangun kesadaran politik rakyat lewat surat kabarnya Sinar Djawa dan mengadakan beberapa kongres umum. Pada tanggal 10 Oktober 1918, Sarekat Islam Semarang nmengadakan Kongres yang dihadiri 3.000 orang. Mereka menunutut Gubernur Jendral untuk menurunkan harga beras dan mengurangi areal perkebunan industri (tebu, tembakau, teh dan kopi). Tapi pemerintah kolonial Beklanda tidak memberikan tanggapan.

Selain itu, hasil sidang dalam kongres CSI ketiga juga menghasilkan beberapa putusan. Pertama, penolakan atas Indie Weerbaar. Kedua, perdamaian dengan orang Tionghoa. Ketiga, pengangkatan Sneevliet sebagai wakil Sarekat Islam di Nederland. Hasil ini merupaka perjuagan dari SI kelompok Semaoen yang berhasil disepakati dalam kongres CSI ketiga. Sejak saat itu, pergerakan SI semakin radikal dan antipemerintah.

Pergerakan SI Semarang yang makin radikal menyebabkan reaksi yang keras dari pihak pemerintah kolonial. Hal ini tampak dengan penangkapan terhadap tokoh-tokoh sosialis revolusioner.  Namun penangkapan beberapa tokoh SI Semarang justru menjadikan gerakan SI makin militan. Hal ini terlihat dengan dibentuknya beberapa perkumpulan, seperti Sarekat Islam Seksi Perempuan dan Sarekat Kere, yang beranggotakan orang-orang yang miskin dan tidak memiliki kekayaan, serta adanya Indiers Journalist Bond.

Pada tanggal 26 Oktober-2 November 1919 di Surabaya diadakan Kongres Nasional Central Sarekat Islam ke-4 yang membahas tentang perlunya mendirikan organisasi sentral kaum buruh. Sebagai realisasinya, tokoh-tokoh Sarekat Islam Semarang mengambil inisiatif menyebarkan undangan kepada seluruh organisasi buruh untuk mengadakan pertemuan di Yogyakarta pada akhir Desember 1919.

Hasil dari kongres CSI ini memunculkan beberapa serikat pekerja, seperti Sarekat Sekerja Pegadaian, Sarekat Sekerja Pabrik Gula, dan Sarekat Sekerja Kereta Api. Ketiganya tergabung dalam Revolusioner Sosialistische Vakcentrale, yang kemudian namanya berganti menjadi Persatuan Pergerakan Kaoem Boereoh (PPKB). Akan tetapi, dalam perkembangannya, ada dua kekuatan dalam vaksentral tersebut, yakni kekuatan golongan sosialis di bawah pimpinan Semaoen dan Bergsma yang berkedudukan di semarang, serta golongan agama dipimpin oleh Agus Salim dan Suryopranoto yang berkedudukan di Yogyakarta.

Akibatnya meletuslah pemogokan pada bulan Januari yang diikuti ribuan buruh dari perusahaan-perusahaan percetakan di seluruh Semarang, antara lain: Van Dorp, De Lokomoteif, Misset, Warna-Warta dan Bisschop. Mereka menunutut kenaikan gaji 50%, cuti 14 hari tiap tahunnya, tunjangan hari raya, dan upah 2 kali lipat pada hari Minggu dan hari libur. Namun perusahaan-perusahaan menolak tuntutan tersebut. Akhirnya pemogokan bertambah besar dan berlangsung berhari-hari. Menyikapi hal itu, akhirnya satu persatu perusahaan menerima tuntutan dengan keputusan menaikkan gaji 20%, kenaikan uang makan 10 sen per hari dan honor lembur 2 kali lipat pada hari Minggu dan hari libur .

Eratnya hubungan komunis dangan Islam mencapai puncaknya pada tahun 1919 ketika Semaoen menyatukan pergerakan ISDV, VSTP dan Sarekat Islam. Kesatuan visi pergerakan antara ketiga organisasi besar ini melahirkan Persatuan Perkumpulan Kaum Buruh yang pertama di Indonesia pada bulan Desember 1919.

Semaoen mendirikan federasi buruh yang merupakan gabungan dari 20 serikat pekerja yang di bawah naungan Sarekat Islam dengan 72.000 orang buruh. Akan tetapi, Semaoen mendapat serangan dari “Si Raja Mogok” yang juga pemimpin serikat sekerja dari Central Sarekat Islam yaitu Sorjopranoto, yang mempersoalkan kepemimpinan Semaoen sehingga federasi tersebut bubar. Pertikaian antara Islam dan Sosialis komunis semakin tidak terbendung ketika bulan November 1920 sebuah surat kabar terbitan ISDV yang berbahasa Belanda “Het Vrije Woord” (Kata yang bebas) menerbitkan tesis-tesis Lenin tentang masalah-masalah nasional dan penjajah yang meliputi kecaman-kecaman terhadap Pan-Islamisme dan Pan-Asianisme. Berbagai pihak telah berupaya untuk mendamaikan kedua belah pihak terutama Tjokroaminoto sebagai ketua Central Sarekat Islam dan Tan Malaka dari golongan radikal. Mereka berpendapat bahwa untuk melawan kolonialis Belanda diperlukan persatuan yang kuat diantara rakyat Indonesia, namun hal ini sia-sia.

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: