Kartini dan Perjuangan Gender


Hidup yang singkat tidak menjadikan pemikiran Kartini (1879-1904) terbelenggu dan hilang ditelan zaman. Kepeduliannya terhadap pendidikan bagi kaum perempuan membuat ia senantiasa menjadi pusat perhatian. Kartini menjadi sebuah simbol perlawanan terhadap ketertindasan dan ketidakadilan yang dirasakan kaum perempuan.

Semasa hidupnya, Kartini tumbuh dan berkembang di kalangan priyayi. Sebagai anak bupati, masa kecilnya erat dengan ketatnya aturan yang mengekang. Berawal dari kondisi inilah ia lalu aktif mengemukakan gagasan-gagasan tentang pendidikan bagi perempuan. Ia berhasil menjadi inspirasi bagi kemunculan pendidikan bagi perempuan, seperti sekolah Dewi Sartika (1904), Putri Mardika (1912), dan banyak sekolah bagi perempuan pada masa pergerakan nasional. Bahkan pada 1912, didirikan sekolah Kartini di banyak kota di Jawa atas dorongan Van Deventer, seorang penggagas politik etis.

Gagasan-gagasannya kian deras meluncur ketika ia berkenalan dengan pemikiran-pemikiran barat yang liberal melalui kolega ayahnya, seperti J.H. Abendanon dan Dr. Adriani. Hal lain yang turut mendorong perkembangan Kartini adalah semangat Politik Etis yang pada saat itu berkembang. Dari sanalah, Kartini aktif melakukan korespondensi selama lima tahun sejak 1899 dengan kenalannya dari Belanda, seperti Stella Zeehandelaar, Prof. dan Ny F.K. Anton, dan Ny. Abendanon. Tulisan-tulisannya banyak berisi tentang kehidupan keluarga, adat, keterbelakangan wanita, serta yang paling utama adalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan.

Perjuangan Gender

Walau realitas yang ditangkap dari pemikiran Kartini berasal dari kehidupan wanita kalangan menengah ke atas, tak membuat pemikirannya terkerdilkan. Dalam keterbatasannya, hakikatnya ia telah melakukan perjuangan gender. Perjuangan memperjuangkan keadilan tentang peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.

Kini telah lebih seabad sejak Kartini mengungkapkan gagasan-gagasannya, tetapi kondisi yang hampir sama masih terjadi. Semasa hidupnya, Kartini gigih dalam melawan subordinasi. Sebuah keadaan yang menomorduakan perempuan, sekaligus sebuah lambang ketakberdayaan. Sampai saat ini, kondisi yang dilawan Kartini masih terjadi dan sudah seharusnya menjadi tugas untuk diatasi.

Selain subordinasi, pada saat ini ada banyak hal yang harus diperjuangkan untuk mewujudkan keadilan gender. Permasalahan marginalisasi perempuan diduga kuat masih selalu dialami, apalagi di kalangan para pekerja kecil. Selain itu, stereotipisasi juga masih erat melekat. Adanya pandangan bahwa perempuan adalah makhluk lemah dan tak berdaya merupakan gambaran stereotype yang sering dijumpai. Mental inilah yang menghambat perkembangan pergerakan perempuan secara internal.

Permasalahan lain yang masih dijumpai adalah double burden atau beban ganda perempuan. Pada kalangan menengah ke bawah tak jarang “jam kerja” perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Perempuan bahkan berperan sebagai pencari nafkah dan pengurus rumah tangga sekaligus.

Satu hal lagi yang patut menjadi catatan dalam perjuangan gender adalah permasalahan kekerasan (violence). Kekerasan psikis, fisik, ekonomi, dan seksual, menjadi pekerjaan yang harus diprioritaskan untuk diselesaikan oleh Kartini-Kartini masa kini.

Ruh Kartini dan Semangat Pergerakan

Ketidakadilan gender telah memberikan konsekuensi minimnya peran perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan. Penomorduaan, marginalisasi, stereotipisasi, beban yang berat, dan kekerasan merebak menjadi permasalahan yang menggambarkan ketimpangan. Akibatnya perempuan terjebak dalam domestifikasi dan sindrom enersia yang ditandai dengan sikap fatalisme, passivisme, dan rasa saling ketergantungan yang tinggi.

Permasalahan-permasalahan itu membutuhkan sebuah upaya penyelesaian. Pergerakan dan perjuangan menjadi sebuah jawaban untuk menuntaskannya. Di sinilah, ruh kartini berperan sebagai penyemangat dan landasan pergerakan perjuangan gender.

Nilai-nilai universal yang diambil dari semangat perjuangan Kartini adalah bahwa perempuan juga membutuhkan pendidikan, mendapat keadilan, dan bebas dari ketertindasan. Untuk itu dibutuhkan sebuah upaya untuk memberikan kesadaran bagi perempuan tentang posisi, fungsi, dan perannya dalam masyarakat.

Kesadaran merupakan kata kunci dalam perjuangan gender. Ini penting karena selama ini perempuan justru merasa bahwa kondisi ketidakadilan itu adalah hal yang sepatutnya diterima begitu saja. Tak jarang ketertidasan yang dialaminya dianggap sebagai sebuah tututan dan kewajiban yang harus dijalankan. Oleh karena itu, upaya mewujudkan sadar posisi, sadar fungsi, dan sadar peran untuk perempuan menjadi prioritas dalam perjuangan gender.

Namun demikian, hal yang patut diperhatikan adalah bahwa tujuan dalam pergerakan dan perjuangan gender pada dasarnya bukan untuk melakukan penghancuran terhadap suatu kebudayaan, melainkan lebih bersifat internal untuk meningkatkan peran perempuan menuju kondisi yang berkeadilan dan bebas dari ketertindasan, tanpa menciptakan ketertindasan yang baru.[tsabit]

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: