Asvi dan Pelurusan Sejarah Indonesia


Semenjak bergulirnya reformasi, perubahan-perubahan terjadi dalam berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu perubahan yang paling menonjol adalah dengan terwujudnya satu keadaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas. Terwujudnya  kebebasan dalam mengungkapkan pendapat ini menjadi satu indikator dari pencapaian iklim yang demokratis dalam sebuah sistem pemerintahan. Reformasi dengan demikian telah mengubah mind set atau pola pikir sebagian besar masyarakat menjadi lebih terbuka dan memiliki keluasan pandangan tentang kondisi diri dan lingkungannya.

Perubahan pola pikir masyarakat yang ditunjang dengan adanya serangkaian perubahan kebijakan pemerintah pascareformasi telah membawa seperangkat perubahan dalam bidang sejarah. Kemunculan reformasi telah membawa satu tahapan baru dalam historiografi Indonesia yang oleh Kuntowijoyo disebut dengan “gelombang ketiga” (Asvi Warman Adam, 2007a:8-9). Gelombang pertama disebut sebagai dekolonisasi sejarah yang diawali dengan adanya Seminar Sejarah Nasional pertama pada tahun 1957 di Yogyakarta. Gelombang kedua ditandai dengan adanya pemanfaatan ilmu sosial dalam sejarah yang terlihat secara menonjol dalam Seminar Sejarah Nasional II di Yogyakarta pada 1970. Pendekatan ini dipelopori oleh Sartono Kartodirdjo. Sementara itu gelombang ketiga dalam historiografi Indonesia ditandai dengan adanya upaya pelurusan terhadap hal-hal yang kontroversial dalam sejarah yang ditulis semasa Orde Baru.

Berkaitan dengan munculnya gelombang ketiga dalam perkembangan historiografi Indonesia, Asvi Warman Adam (2007:9-14) memberikan penjelasan tentang ciri dari gelombang ketiga sejarah Indonesia yakni (1) penulisan sejarah ”terlarang”, yang ditandai dengan munculnya beragam versi dan teori baru yang pada masa lalu hal ini sulit terjadi, (2) penerbitan sejarah akademis yang kritis, seperti penerbitan karya ilmiah yang selama ini hanya dinikmati oleh kalangan terbatas, serta (3) penerbitan biografi tokoh terbuang yang berisi kesaksian dari para tokoh yang pada masa lalu dianggap sebagai tokoh yang dianggap “berbahaya” dan “terbuang”. Dengan adanya hal-hal tersebut, sejak reformasi telah terjadi pergeseran paradigma dan dinamisasi penulisan sejarah, dari sejarah yang semula bersifat tunggal versi resmi pemerintah menjadi sejarah yang lebih beragam dengan adanya beberapa versi yang muncul dalam masyarakat.

Perspektif penulisan sejarah juga mengalami suatu dinamika akibat terjadinya reformasi. Bahkan dinamika yang terjadi setelah reformasi adalah adanya perubahan corak historiografi Indonesia. Perubahan corak historiografi Indonesia telah memunculkan pendapat-pendapat yang beranekaragam tentang satu peristiwa sejarah, seperti berkembangnya beberapa versi dari Gerakan 30 September tahun 1965.

Perubahan corak dan dinamisasi dalam historiografi Indonesia pascareformasi dapat dilihat juga dengan bermunculannya trend yang disebut sebagai ”sejarah korban” (Asvi Warman Adam, 2007a: 9). Sejarah korban merupakan sejarah yang ditulis berdasarkan perspektif dari pihak yang merasa dirugikan atau yang menjadi korban dalam suatu peristiwa sejarah dan penulisannya di kemudian hari. Dengan demikian hal ini telah memberikan suatu keseimbangan dalam penulisan sejarah dan memperkaya wacana tentang suatu peristiwa sejarah.

Historiografi Indonesia yang berkembang pascareformasi sebagian mencoba untuk mempertanyakan versi masa lampau sejarah Indonesia dan menguji kerangka yang sudah lama mapan (Curaming, 2006). Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa pada historiografi pascareformasi terjadi kecederungan berupa adanya keinginan untuk membersihkan upaya penulisan sejarah dari kedekatannya dengan Orde Baru dan adanya upaya mengubah paradigma yang telah lama berkembang bahwa sejarah identik dengan sejarah politik (Curaming, 2006).

Sekilas Sosok Asvi Warman Adam
Asvi Warman Adam, lahir di Bukittinggi 8 Oktober 1954. Pada saat ini ia bekerja di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 1983. Sebelumnya ia merupakan seorang wartawan pada majalah Sportif sejak 1980. Pengalamannya sebagai seorang wartawan inilah yang nanti akan memberikan sentuhan-sentuhan dalam tulisan-tulisannya yang bersifat populer.

Pendidikan sarjana muda ia tempuh di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta lulus pada tahun 1977, dan tingkat sarjana pada Universitas Indonesia lulus pada tahun 1980. Semuanya dari jurusan sastra Perancis. Inilah yang menjadi bekal dalam perjalanan akademik berikutnya, ketika ia melanjutkan studi di Perancis dengan mengambil sejarah sebagai bidang kajiannya.

Asvi Warman Adam mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu sejarah dari EHESS (Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales) di Paris pada tahun 1990. EHESS Paris merupakan sekolah tinggi di Perancis yang sangat terkemuka di bidang Sejarah. Di sini berkumpul pada profesor yang menganut aliran Nouvelle Histoire (New History). Sekolah ini didirikan da pertama kali dipimpin oleh Fernand Braudel, pelopor aliran sejarah tersebtut. Disertasinya mengangkat tentang hubungan Hindia Belanda dengan Indochina pada masa kolonial Les Relations entre les Indes Neerlandaises et l’Indochine 1870-1914 di bawah bimbingan Denys Lombard.

Sepulangnya ke Indonesia pada tahun 1990 meneli di LIPI tentang masalah Vietnam, Kamboja, dan ASEAN. Selain itu ia juga berniat untuk mengembangkan aliran sejarah dari EHESS. Sejak tahun 1999 sering menulis tentang rekayasa sejarah Orde Baru dan mengembangkan wacana tentang pelurusan sejarah Indoesia, serta penulisan historiografi Indonesia dari perspektif korban. Ia pernah menjadi anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk Komnas HAM tahun 2003. Ia juga pernah menjadi narasumber pada CAVR Timor Leste tahun 2004 dan Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste tahun 2008.

Proses pergulatan intelektual dari Asvi Warman Adam tidak lepas dari aliran sejarah tempat di mana ia melakukan studi, yakni tempat lahir dan berkembangnya aliran sejarah baru atau yang sering dikenal dengan mazhab Annales. Pada tahun 1920-an di Perancis ada istilah “sejarah jenis baru” yang dikembangkan oleh Marc Bloch dan Lucien Febvre dari Universitas Strasbourg dengan menerbitkan jurnal berjudul Annales d’histoire eqonomique et sociale yang mengkritik tajam sejarawan tradisional. Mereka ingin mengganti sejarah politik menjadi sejarah yang lebih luas dan manusiawi. Oleh karena itu sejarah bukan lagi semata-mata narasi mengenai kejadian-kejadian, tetapi analisis mengenai struktur. Kelompok ini kemudian dikenal dengan mazhab Annales. Mazhab Annales menekankan pada pendekatan holistik, interdisiplin, struktural, serta berbagai perkembangan penulisan dengan pendekatan yang baru. Dengan demikian muncul tema-tema baru dalam penulisan sejarah, seperti sejarah wanita, sejarah mentalitas, dan sebagainya (Kuntowijoyo, 2008). Aliran sejarah ini pulalah yang turut mempengaruhi padangan Asvi Warman Adam dalam tulisan-tulisannya yang lebih cenderung bersifat alternatif dalam historiografi Indonesia kontemporer pascareformasi.

Asvi dan Pelurusan Sejarah
Pelurusan sejarah menjadi wacana yang sangat kental dan berkembang dengan pesat setelah reformasi. Sebagai sebuah terma, istilah pelurusan sejarah sebenarnya masih mengundang sejumlah perdebatan diantara sejarawan itu sendiri. Ada sebagian kalangan yang tidak sepakat dengan penggunaan istilah “pelurusan sejarah” karena menurut mereka apakah sejarah itu dapat diluruskan.
Dalam pandangan Asvi Warman Adam, golongan yang tidak setuju itu bisa kategorikan menajdi tiga. Pertama, yang memang orang awam, yang tidak mengetahui apa arti atau makna pelurusan sejarah itu; kedua, para sejarawan yang dulu terlibat dalam usaha memanipulasi sejarah; dan yang ketiga, sejarawan yang lain yang tidak terlibat, tetapi menganggap bahwa istilah itu sendiri kurang ilmiah. Karena, kalau sudah diluruskan, kalau salah lagi bagaimana? Apakah akan diluruskan kembali, kalau begitu tidak akan selesai-selesai. Tetapi di lain pihak, ada juga sejarawan yang setuju dengan istilah pelurusan sejarah tersebut. Alasan mereka yang setuju adalah bahwa istilah ini penting diajukan untuk menyatakan, bahwa pada masa lampau sudah terjadi pembelokan sejarah (Rakyat Merdeka, 13 April 2005). Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa pelurusan sejarah akan mampu memberikan sebuah wacana bahwa sejarah yang selama ini dipergunakan sebagai alat penindas perlu diubah menjadi medium pembebasan (Bambang Wisudo, 2005).

Dalam pandangan Asvi Warman Adam, pelurusan sejarah berkaitan dengan sejarah sebagaimana diceritakan, bukan sejarah sebagai peristiwa yang dialami (Asvi Warman Adam, 2007a: 3-4). Artinya hal tersebut lebih cenderung menitikberatkan pada aspek interpretasi terhadap suatu peristiwa sejarah.

Ketertarikan Asvi Warman Adam terhadap pelurusan sejarah khususnya tentang peristiwa 1965 muncul setelah reformasi. Pada tahun 1999 ia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. “Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya.” (Sularto, 2009).

Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965 (Sularto, 2009).
Peristiwa seputar 1965 menjadi fokus yang sering ditulis oleh Asvi. Hal ini karena Peristiwa 1965 merupakan tahun pembatas zaman. Zaman berubah antara sebelum 1965 dan sesudahnya. Perubahan itu terjadi dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya secara serentak. Setelah tahun 1965, politik luar negeri berubah total. Dari nonblok menjadi pro-Barat, menjadi pengikut Amerika Serikat. Ekonomi Indonesia yang dulunya berdikari berubah menjadi ekonomi yang tergantung pada modal asing. Dalam bidang sosial budaya juga terjadi perubahan sangat besar. Pada masa lampau, orang boleh mempersoalkan tanah. Pada masa Orde Baru, penelitian tentang agraria pun hilang. Orang tidak boleh lagi mengungkit-ungkit tanah. Dalam bidang kebudayaan, sebelum 1965, kita bebas berpolemik. Sesudah tahun 1965 budaya menjadi seolah-olah satu, menjadi monolitik. Tidak ada lagi perbedaan dan semua menjadi seragam.

Bagi Asvi Warman Adam, peristiwa 1965 menimbulkan dampak sangat besar. Dari tahun 1965 sampai 1966, ada sekitar setengah juta orang terbunuh. Ini luar biasa. Sebuah peristiwa yang harus ditulis dalam buku pelajaran sejarah nasional. Akan tetapi, peristiwa ini tidak pernah disinggung. Pembunuhan 1965-1966 sengaja dihilangkan dalam sejarah. Akibatnya, kekerasan lebih kurang serupa terulang lagi melalui pelanggaran HAM di mana-mana. Peristiwa 1965 merupakan kekerasan paling besar dalam sejarah Indonesia modern (Bambang Wisudo, 2005).

Pelurusan sejarah ini bagi Asvi Warman Adam (dalam Bambang Wisudo, 2005) berkaitan dengan kenyataan bahwa sudah terjadi pembelokan atau manipulasi pemalsuan sejarah pada masa Orde Baru. Walaupun demikian tentunya tidak berarti pelurusan sejarah ini hanya menyangkut periode Orde Baru saja, tetapi juga bisa berkenaan dengan masa-masa sebelumnya. Misalnya, masa yang panjang yang selalu dikatakan bahwa penjajahan Belanda di Indonesia berlangsung selama 350 tahun itu. Padahal sewaktu masa penjajahan Belanda, banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara yang masih berdaulat. Belanda tidak sampai menjajah atau menguasai kerajaan-kerajaan itu.

Di dalam tulisannya yang berjudul Pelurusan Sejarah dan Historiografi Alternatif (2005) dinyatakan bahwa pelurusan sejarah yang populer setelah kejatuhan Suharto pada dasarnya merupakan upaya untuk membenahi penulisan sejarah yang selama Orde Baru bersifat monolitik terutama yang bersangkutan dengan pengajaran sejarah di sekolah. Masyarakat pda saat itu hanya boleh mengetahui versi pemerintah. Oleh karena itu, pelurusan sejarah berarti membuat sejarah yang seragam itu menjadi beragam. Apabila dahulu hanya terdapat satu versi mengenai Gerakan 30 September, maka kini telah terungkap berbagai versi sejarah. Ini artinya bahwa munculnya kontroversi sejarah merupakan bagian dari upaya terhadap pelurusan sejarah itu. Pelurusan sejarah itu menyangkut penjelasan peristiwa yang lebih tepat, lebih berimbang, dan lebih terbuka.
Pelurusan sejarah tentulah tidak berkisar tentang Suharto versus Sukarno dan PKI saja, tetapi juga mencakup seluruh zaman. Akan tetapi, pada pemerintahan Orde Baru, rekayasa sejarah itu dilakukan lebih sistematis daripada masa-masa sebelumnya dan sesudahnya.

Secara struktural, pelurusan sejarah merupakan upaya untuk menyelesaikan masalah masa lalu bangsa. Pelurusan sejarah juga menyangkut pengungkapan hal-hal yang tabu pada masa lampau seperti berbagai pelanggaran berat HAM. Bukan hanya kasus 1965, tetapi berbagai peristiwa yang terjadi sebelum dan sedudahnya juga harus diungkap. Kasus Aceh, Irian Jaya, Timor Timur, Lampung, Tanjung Priok, Peristiwa 27 Juli 1996, Kasus Trisakti dan Semanggi, dan sebagainya perlu diteliti dan dituliskan dalam sejarah. Jika hal ini tidak dilakukan, maka bangsa ini akan melangkah ke depan dengan menyandang beban (Asvi Warman Adam, 2007a: 27).

Dari ketertarikannya terhadap tema-tema seputar pelurusan sejarah, terbitlah beberapa buku yang mengulas tentang permasalahan tersebut. Berkaitan dengan upaya pelurusan sejarah, ia telah menulis beberapa buku antara lain Suharto: Sisi Gelap Sejarah Indonesia (2004), Menggugat Historiografi Indonesia (2005), Seabad Kontroversi Sejarah (2007), Pelurusan Sejarah Indonesia (2007), Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa (2009), Orang-Orang di Balik Tragedi (2009), dan sebagainya. Selain itu ia juga banyak menulis dalam berbagai forum dan media massa yang berkaitan dengan pelurusan dan kontroversi sejarah Indonesia.

Dalam mengembangkan wacana tentang pelurusan sejarah, Asvi Warman Adam (2005: 65-66) memandang pelurusan sejarah tampaknya sejalan dengan historiografi alternatif. Kemunculan historiografi alternatif ini diilhami oleh gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Mazhab Annales yang melakukan upaya pembaruan dalam bidang sumber, metodologi, dan perspektif. Dengan demikian, historiografi alternatif yang dimaksud adalah historiografi yang mengandung pembaharuan dalam hal sumber, metodologi, dan perpektif. Dalam hal ini dapat disebutkan pula bahwa sejarah lisan menjadi alternatif dari sumber tertulis. Kalau dulu sejarah ditulis dalam perspektif pemenang, kini sejarah bisa ditulis oleh pihak yang kalah atau korban. Sejarah dalam perspektif korban dapat menjadi sejarah alternatif, kini dan esok. Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa sejarah bukan saja tentang peristiwa besar dan orang-orang besar, melainkan juga menyangkut keseharian orang-orang kecil. Mengenani metodologi, dapat disarankan digunakannya pendekatan Marxisme dalam sejarah atau dekonstruktif yagdikembangkan oleh aliran posmodernisme (Asvi Warman Adam, 2005: 66).

Pelurusan Sejarah dalam Munculnya Kontroversi Sejarah
Kontroversi sejarah merupakan salah satu bagian yang tidak lepas dari upaya terhadap pelurusan sejarah di Indonesia. Hal ini karena pelurusan sejarah ditandai dengan adanya apresiasi terhadap tulisan-tulisan alternatif, sehingga hal ini berpeluang bagi kemunculan tulisan-tulisan dari berbagai sudut pandang. Kajian tentang kontroversi sejarah ini juga menjadi satu wacana yang dicoba untuk dikembangkan oleh Asvi Warman Adam. Wacana tentang kontroversi sejarah dimunculkan oleh Asvi Warman Adam (2007b) dalam bukunya berjudul Seabad Kontroversi Sejarah. Dalam buku ini ia banyak bercerita tentang berbagai peristiwa sejarah yang bersifat kontroversial, mulai dari mitos penjajahan 350 tahun sampai peristiwa reformasi.
Dalam kajian tentang kontroversi sejarah, Asvi Warman Adam menawarkan tiga macam penyebab dari tipologi kontroversi sejarah. Kontroversi sejarah di Indonesia disebabkan oleh fakta dan interpretasi yang (1) tidak tepat, (2) tidak lengkap, dan (3) tidak jelas. Contoh kategori pertama adalah kontroversi tentang mitos penjajahan 350 tahun, munculnya versi tunggal tentang peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 dan Supersemar. Sementara itu kategori kedua menyangkut Budi Utomo dan kaitannya dengan hari kebangkitan nasional, Sumpah Pemuda sebagai tonggak dalam mewujudkan persatuan, dan sebagainya. Adapun sejarah yang termasuk kategori kegita adalah tentang hal-hal yang tidak jelas dalam sejarah Indonesia, seperti naskah asli Supersemar, peristiwa Malari tahun 1974, petrus, dan peristiwa yang masih belum terbukti dan bersifat kabur (Asvi Warman Adam, 2007b; 2009, 101-106).

Dikaitkan dengan tipologi yang dilakukan oleh Asvi arman Adam (2007b) terhadap kontroversi sejarah, dengan demikian tugas dari pelurusan sejarah adalah untuk menepatkan, melengkapi, dan memperjelas suatu peristiwa sejarah.

Penutup
Pelurusan sejarah merupakan sebuah wacana yang tidak dapat terelakkan setelah kemunculan reformasi yang membawa harapan tentang keterbukaan. Munculnya berbagai tulisan yang mengangkat tema-tema yang pada masa Orde Baru mengalami pelarangan, ditulisnya biografi tokoh-tokoh terbuang, dan penerbitan karya sejarah akademik menjadi satu tanda era pelurusan sejarah tersebut. Selain itu pelurusan sejarah merupakan upaya yang dilakukan untuk memunculkan pemikiran-pemikiran alternatif yang selama ini tidak mendapatkan apresiasi, sehingga pelurusan sejarah memunculkan keberagaman dalam penulisan sejarah. Salah satu sejarawan yang intens dalam kajian tentang pelurusan sejarah adalah Asvi Warman Adam. Dalam berbagai tulisannya, terutama di media massa ia banyak mewacanakan tentang pelurusan sejarah Indonesia, yakni tentang upaya membongkar kebohonan-kebohongan dan rekayasa dalam historiografi Indonesia dan mengarahkan histiriografi Indonesia menjadi ajang pembebasan bagi kaum yang tertindas. [tsabit]

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: