Kiai Suko dan Berdirinya Desa Sekaran


Setiap pagi saya berjalan kaki dari rumah kontrakan menuju kampus tempat saya mengajar di Jurusan Sejarah Unnes. Perjalanan selalu saya lalui dengan rute yang sama. Dari kos menyelusur rumah-rumah warga, lewat pemakaman, dan akhirnya sampai di pintu kecil di belakang kampus. Lalu-lalang penghuni kampus yang melewati rute sama seperti yang saya tempuh menjadikan daerah sekitar pemakaman menjadi ramai. Begitu ramainya, sampai akhirnya permukiman warga berimpitan dengan lahan pemakaman. Satu simpulan yang bisa simpulkan, sekarang orang lebih takut pada kemiskinan daripada seramnya kuburan. Namun, dari banyaknya nisan di pemakaman, terdapat dua makam yang diberi pagar khusus oleh warga. Di tengah himpitan perumahan yang kian padat, kedua makam tersebut masih tampak terawat. Itulah makam sesepuh masyarkat Sekaran, Kiai Suko dan Nyai Tanjung. Cikal bakal berdirinya desa sekaran.

Secara administratif, Sekaran merupakan sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sekaran terletak di bagian bagian selatan Kota Semarang yang didominasi oleh kawasan pertanian karena terletak di kawasan Semarang atas yang dekat dengan Kabupaten Semarang. Sekaran pada saat ini merupakan kelurahan yang tengah berkembang dengan pesat. Keberadaan Sekaran pada saat ini menjadi sangat penting karena Sekaran merupakan pusat pengembangan pendidikan dengan dibangunnya Universitas Negeri Semarang di kawasan Sekaran.

Kelurahan Sekaran Luas Wilayah memiliki luas  490.718 ha.yang terbagi atas 26 Rukun Tetangga (RT) dan tujuh Rukun Warga (RW). Berdasarkan data pada tahun 2008, jumlah penduduk Sekaran adalah 6.057 jiwa. Jumlah penduduk ini merupakan jumlah yang paling banyak di Kecamatan Gunungpati. Sekaran terbagi atas empat dukuh, yakni Dukuh Sekaran, Dukuh Banaran, Dukuh Bantar Dowo, dan Dukuh Persen. Kelurahan Sekaran berbatasan dengan Kelurahan Sukorejo di sebelah utara. Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Srondol Kulon. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Patemon, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kalisegoro.

Perkembangan yang pesat ini telah menunjukkan tanda-tanda perkembangan menjadi kawasan kota dengan penduduk yang heterogen, dihuni secara padat oleh penduduk yang beraneka ragam dari segi pekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup, ketersediaan berbagai fasilitas yang memudahkan masyarkat dalam memenuhi kebutuhan, dan sebagainya. Perkembangan Sekaran menuju sifat-sifat kota disebabkan adanya Universitas Negeri Semarang yang didirikan di kawasan tersebut pada sekitar tahun 1990-an. Namun demikian, pada dasarnya sebelum berdirinya Universitas Negeri Semarang yang banyak memberikan perubahan dalam kehidupan masyarakat Sekaran, di kawasan tersebut telah berkembang masyarakat yang telah hidup selama ratusan tahun secara turun temurun dan memiliki tradisi yang erat dipegang oleh masyarakat.

Keberadaan Sekaran sebagai wilayah yang telah dihuni selama ratusan tahun kira-kira sejak abad ke-17 tidak lepas dari peran Kiai Suko sebagai tokoh yang berada di belakang munculnya Sekaran. Kiai Suko merupakan sosok yang berjasa dalam membuka kawasan untuk dijadikan permukiman masyarakat sekaligus sebagai tempat bercocok tanam. Ia bersama istrinya merupakan tokoh yang dianggap oleh warga Sekaran sebagai pendiri sekaligus lurah pertama di Sekaran. Keberadaannya oleh masyarakat sekaran pada saat ini dikeramatkan. Hal ini tampak dari adanya pembuatan pagar khusus oleh masyarakat di pemakaman Kiai Suko dan istrinya. Ini merupakan satu bentuk penghormatan masyarakat Sekaran terhadap leluhurnya sekaligus upaya untuk mempertahankan tradisi lokal yang saat ini tengah tergerus oleh perkembangan zaman.

Secara ringkas tulisan ini berupaya untuk mengangkat sosok dari Kiai Suko sebagai pendiri Sekaran sekaligus melakukan telaah kritis tentang perannya dalam proses pendirian Sekaran.

Jalan Hidup Kiai Suko
Tidak ada sumber yang pasti yang menjelaskan tentang awal kehidupan Kiai Suko sebagai pendiri Desa Sekaran. Hal ini karena tidak ada peninggalan tertulis tentang pendirian Desa Sekaran, sehingga sumber yang digunakan untuk melakukan rekonstruksi sosok Kiai Suko hanya berasal dari tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat Sekaran. Berdasarkan penuturan dari Moh. Sakur selaku sesepuh desa, Kiai Suko hidup sekitar abad ke-17. Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa Kiai Sekaran hidup setelah sejarah Semarang.

Sejarah berdirinya Semarang sendiri bermula pada akhir abad ke-15 M ketika ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan, untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang atau jarang, sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.

Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II atau Sunan Bayat. Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Dengan demikian, Kiai Suko melakukan pembabatan di kawasan Kadipaten Semarang, karena pada saat itu telah berdiri Kadipaten Semarang.

Kiai Suko sebelum membabat daerah yang kemudian disebut Sekaran adalah seorang punggawa dari Surakarta. Namun demikian, ketika ditelusuri lebih mendalam tidak diketahui apa jabatan yang diampu oleh Kiai Suko dalam struktur birokrasi. Permasalahan ini muncul karena sampai sekarang belum ditemukan sumber tertulis tentang sejarah berdirinya Desa Sekaran. Cerita yang berkembang pada saat ini hanya berasal dari tradisi lisan yang turun temurun diwariskan kepada masyarakat di desa sekaran tentang bagaimana peran Kiai Suko dan proses pembabatan hutan yang kemudian menjadi kawasan yang disebut dengan Sekaran.

Kiai Suko kemudian mendapatkan tugas untuk membuka lahan baru di sebuah kawasan Semarang bagian selatan. Bersama isterinya yang bernama Nyai Tanjung ia kemudian memimpin pembukaan sebuah kawasan permukiman dan daerah pertanian baru di selatan Semarang. Setelah berhasil dalam mendapatkan lahan perukiman dan pertanian baru ia kemudian bertindak sebagai bêkêl. Secara tidak langsung ia juga berperan sebagai pemimpin desa. Sebagai seorang bêkêl, Kiai Suko bertindak pula sebagai kepala desa atau kepala dukuh yang bertanggung jawab pula dalam bidang ketertiban dan keamanan desa. Sebagai bêkêl ia membawahi sekitar 100 cacah. Diketahuinya jumlah cacah yang dibawahi adalah dari jabatannya sebagai penatus yang artinya membawahi sekitar seratus cacah.

Sebagai pembuka lahan, Kiai Suko memilki tugas untuk membagi-bagi tanah desa untuk calon penggarap. Ia kemudian disebut kepala desa. Ia merupakan seorang yang bertugas sebagai penebas pajak. Sedikit demi sedikit Kiai Suko sebagai bêkêl diberi kekuasaan sebagai kepala desa, sehingga ia kemudian peranannya berubah dari penebas pajak menjadi pemegang kekuasaan desa atau menjadi lurah, sebagai pemimpin resmi sekaligus birokrat desa yang menghubungkan antara rakyat dengan birokrasi di atasnya.

Lebih lanjut lagi Moh. Sakur menjelaskan bahwa setelah menjabat sebagai bêkêl, Kiai Suko kemudian menjadi seorang lurah. Ketika ia menjadi lurah, ia telah membawahi sekitar 1000 cacah. Hal ini karena ia memiliki jabatan sebagai penewu, yang artinya sebagai pengelola seribu orang pekerja. Ia merupakan lurah pertama di Sekaran. Dengan diangkatnya Kiai Suko sebagai lurah di Sekaran, berarti Sekaran telah berubah status menjadi bagian yang resmi dalam Kadipaten Semarang. Ini artinya telah ada pengakuan dari kadipaten tentang keberadaan Sekaran sebagai permukiman dan daerah pertanian baru. Perkembangan sekaran menjadi sebuah desa yang diakui dalam struktur birokrasi di kadipaten Semarang disebabkan oleh perkembangan penduduk yang semakin banyak pada saat itu. Dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah, maka sekaran menjadi kawasan yang banyak dihuni dan memiliki banyak cacah, sehingga terjadilah perubahan status menajdi desa dan terjadi pengangakatan Kiai Suko menjadi seorang lurah. Kiai Suko sampai meninggalnya masih menjabat sebagai lurah dan dimakamkan di pemakaman Sitanjung di timur laut dusun Sekaran. Setelah meninggal oleh masyarakat, Kiai Suko kemudian disebut sebagai Kiai Sekar.

Nama makam si tanjung tersebut berasal dari nama isteri Kiai Suko yang bernama Nyai Tanjung. Sampai sekarang keberadaan makam tersebut masih ada dan dipergunakan oleh masyarakat untuk menguburkan anggota masyarakat Sekaran yang meninggal. Sampai sekarang, ada dua jalan menuju makam, yang satu dinamai jalan Sitanjung, yang satu dinamai jalan Kiai Sekar. Dinamainya jalan tersebut oleh masyarakat merupakan sebuah penghirmatan atas peran serta dan jasa dari kedua tokoh yang membabat alas sehingga muncul daerah yang disebut Sekaran.

Dari penjelasan yang diutarakan oleh Moh. Sukur penulis mencoba melakukan rekonstruksi tentang kapan pastinya Kiai Suko hidup dan memimpin sekaran. Oleh sesepuh desa, dijelaskan bahwa Kiai Sekar hidup pada sekitar abad ke-17. Ia adalah seorang punggawa dari Kraton Surakarta. Ia juga adalah seorang bêkêl. Dari keterangan tersebut, Kiai Suko diperkirakan hidup pada masa Mataram. Hal ini karena pada abad ke-17 kawasan Semarang masih berada di bawah kekuasaan Mataram.

Dari data tersebut Kiai Suto diperkirakan memimpin Sekaran setelah terjadi peristiwa proses pemindahan kekuasaan dari Plered ke Kartasura. Pemindahan ini dilakukan oleh Amangkurat II setelah tahun 1677. Dengan demikian Kiai Suko memimpin Sekaran setelah tahun 1677 sampai sekitar tahun 1705. Batas tahun 1677 adalah ketika kekuasaan telah berpindah di Kartasura dan pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian perlu ditegaskan bahwa Kiai Suko pada dasarnya tidak menjadi punggawa kraton secara langsung, tetapi dimungkinkan sebagai punggawa di Kadipaten Semarang, yang pada saat itu merupakan bagian dari kekuasaan kraton. Kemudian kraton yang disebut oleh Moh. Sakur mungkin akan lebih cocok ketika disebut sebagai Kraton Kartasura daripada Kraton Surakarta. Hal ini karena Kraton Surakarta baru ada sekitar pertengahan abad ke-18 akibat Geger Pecinan, sehingga hal ini tidak cocok dengan masa hidup dari Kiai Suko.

Dilihat dari masa hidupnya, Kiai Suko hidup pada masa pemerintahan Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674) atau pada masa pemerintahan Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701). Kedua adipati tersebut diperkirakan menjadi atasan dari Kiai Suko sebagai lurah Sekaran.

Kiai Suko dan Berdirinya Sekaran
Sebelum dibuka oleh Kiai Suko, kawasan Sekaran masih berupa hutan. Menurut penuturan dari Moh. Sakur, sebelum adanya sekaran daerah tersebut masih wang-wung atau kawasan belantara dan daerah yang banyak ditumbuhi semak belukar dan alang-alang.

Munculnya Sekaran erat kaitannya dengan perlombaan perolehan lahan. Oleh Moh. Sakur diceritakan bahwa sebelum ada upaya pencarian daerah permukiman baru terjadi beberapa kerusuhan yang menyebabkan masyarakat terpaksa mencari kawasan baru yang lebih aman. Kiai Suko berpandangan bahwa untuk mendapatkan lahan yang luas perlu adanya pembagian tugas. Maka Kiai Suko mendapatkan bagian untuk membabat hutan dan Nyai Tanjung, istrinya, bertugas membakar hasil babatan.

Dari proses pembakaran hasil babatan hutan inilah nama sekaran ditemukan, yakni berasal dari kata bakaran yang berarti hasil pembakaran. Lambat laun daerah ini disebut sebagai Sekaran.

Sebagai daerah permukiman dan pertanian yang baru, daerah ini kemudian berkembang menjadi desa dengan Kiai Suko yang menjabat sebagai lurah yang pertama. Dengan demikian, peran Kiai Suko sangat besar dalam proses perkembangan Desa Sekaran. Hal ini karena dialah yang pertama-tama melakukan upaya pembabatan hutan untuk dijadikan kawasan permukiman. Kemudian setelah penduduk bertambah banyak, ia diangkat menjadi lurah. Ini menandakan bahwa ia bertindak sebagai tokoh birokrat yang memiliki kewenangan administratif dalam mengatur tatanan sosial masyarakat di Sekaran.

Penutup
Sekaran pada saat ini telah berkembang sebagai kawasan permukiman yang telah banyak mengalami kemajuan, bahkan saat ini telah menunjukkan ciri-ciri sebuah kota dengan beragamnya penduduk, adanya fasilitas yang bermacam-macam dan sebagai salah satu pusat pendidikan di Jawa Tengah. Keberadaan Sekaran sebagai sebuah kawasan tidak lepas dari peran serta para tokoh yang jauh selama ratusan tahun yang lalu mengembangkan sekaran sebagai cikal bakal permukiman masyarakat.

Satu tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan desa sekaran adalah Kiai Suko yang oleh masyarakat kemudian lebih dikenal sebagai Kiai Sekar. Kiai Suko diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Amangkurat II. Ia mulai membabat hutan dan kemudian memimpin daerah Sekaran setelah tahun 1677 sampai sekitar tahun 1705 atau pada masa pemerintahan Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674) atau pada masa pemerintahan Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701) sebagai adipati di Semarang.

Kiai Suko merupakan tokoh yang pertama kali membabat hutan di kawasan Semarang bagian selatan untuk dijadikan sebagai permukiman baru yang disebut dengan Sekaran. Ia adalah tokoh yang berperan sebagai pemimpin di desa Sekaran sampai kemudian lambat laun diangkat sebagai seorang lurah. Oleh masarakat di sekaran sampai sekarang keberadaan Kiai Suko atau Kiai Sekar masih sangat dihormati. Hal ini terlihat dari makamnya yang masih terawat, bahkan dibuatkan bangunan khusus agar keberadaan makamnya tetap lestari, sehingga masih dapat diingat oleh generasi-generasi penerus di Sekaran untuk selalu mengenang jasa dan peran serta yang amat besar dari Kiai Suko dalam mendirikan Sekaran.

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: