Mengajarkan Isu Kontroversial


Pembelajaran sejarah kontroversial adalah sebuah keniscayaan. Hal ini karena materi yang diangkat dalam pembelajaran sejarah haruslah berangkat dari permasalahan faktual pada historiografi. Di satu sisi historiografi Indonesia pada saat ini telah terbuka terhadap isu-isu kontroversial. Dengan demikian, pesatnya perkembangan penulisan sejarah kontroversial dalam historiografi selayaknya diakomodasi dalam materi pembelajaran di kelas. Secara formal, perkembangan sejarah kontroversial yang telah memberikan beragam alternatif jawaban atas realitas di masa lalu sejalan dengan jiwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP hakikatnya memerikan peluang terhadap munculnya materi-materi baru dan keleluasaan bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran. Di satu sisi, secara akdemik, pembelajaran sejarah kontroversial memiliki beberapa keunggulan dan manfaat ketika pelaksanaannya dikelola dengan baik.

Namun demikian, kadangkala pembelajaran sejarah kontroversial terkendala oleh sikap guru yang cenderung menghindari materi-materi kontroversial. Padahal, salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial adalah kemauan guru dalam menghadirkan isu kontroversial dalam kelas dan menciptakan suasana akademik yang mendukung untuk membahas isu tersebut dalam pembelajaran yang dialogis dan kontekstual. Tulisan ini mencoba untuk menjawab bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru terkait posisi mereka sebagai komponen dalam mewujudkan pembelajaran sejarah kontroversial yang memberikan kesadaran kritis dalam sejarah.

Sejarah kontroversial dipahami sebagai narasi terhadap suatu peristiwa sejarah yang memiliki ragam penjelasan/versi (Ahmad, 2012). Hal ini karena penjelasan yang beraneka ragam terhadap suatu peristiwa sejarah menjadi akar dari kontroversi (Bracey, Gove Humphries, Alison & Jackson, 2011). Dalam arti luas, adanya perbedaan pendapat terhadap suatu peristiwa sejarah adalah akar dari sejarah kontroversial. Dalam pemahaman yang lain, perbedaan versi dari sebuah peristiwa pada akhirnya memunculkan kecenderungan pertentangan antarversi yang berujung pada konflik kepentingan.

Munculnya sejarah kontroversial merupakan sebuah keniscayaan dalam pengertian sejarah sebagai cerita (histoire recite). Hal ini karena sejarah merupakan kajian interpretatif terhadap sebuah peristiwa. Dengan demikian penafsiran-penafsiran terbaru terbuka untuk dilakukan. Dalam historiografi, sejarah kontroversial disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor metodologis dan kepentingan sosio-politik (Ahmad, 2010).

Pembelajaran Sejarah Kontroversial

Pembelajaran sejarah kontroversial merupakan upaya untuk membahas dalam kelas isu-isu kontroversial dalam sejarah. Hal ini dilakukan dengan menghadirkan beragam perpspektif tentang masa lalu secara berimbang di dalam kelas. Pembelajaran sejarah kontroversial didukung dengan adanya atmosfer yang saling mendukung untuk memahami secara mendalam permasalahan di masa lalu dan menguraikan maknanya untuk membangun kesadaran sejarah siswa.

Pemecahan masalah pembelajaran sejarah kontroversial diawali dengan penguatan komitmen guru sejarah (Ahmad, 2010). Hal ini karena pembelajaran sejarah kontroversial membutuhkan persiapan dan keberanian guru dalam mengambil risiko (Harwood & Hahn, 1990; Soley, 1996; Fallahi & Haney, 2007; Phillips, 2008). Persiapan yang matang dalam pembelajaran sejarah kontroversial akan mereduksi masalah-masalah teknis pembelajaran, seperti keterbatasan waktu, kelangkaan sumber dan media, serta masalah dalam pemilihan strategi pembelajaran yang tepat sasaran.

guru harus berani dan kreatif untuk menyiapkan peserta didik memahami kondisi sosial politik secara nyata. Hal ini mungkin terjadi apabila guru telah memiliki kemauan dan kemampuan untuk menyiapkan pembelajaran sejarah kontroversial. Dengan demikian, kepercayaan diri guru menjadi komitmen awal untuk pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial.

Guru tidak perlu khawatir bahwa sumber-sumber belajar, media, waktu, dan strategi belajar masih tersedia secara terbatas. Hal ini karena dalam era teknologi, guru dapat memanfaatkannya untuk menelusuri sumber-sumber yang tersedia secara melimpah. Namun jika guru masih belum bisa menjangkau, akademisi dan lembaga keilmuan memiliki tugas untuk memudahkan guru mendapatkan informasi tersebut.

Setelah guru memiliki komitmen yang kuat dalam pembelajaran sejarah kontroversial, upaya yang dilakukan berikutnya adalah dengan memberikan pemahaman tentang praksis pembelajaran sejarah kontroversial. Hal ini terkait dengan pertanyaan utama “apa yang dilakukan guru dalam pembelajaran sejarah kontroversial?”Aspek pertama yang dipertimbangkan adalah tentang bagaimana guru harus bersikap terhadap sejarah kontroversial.

Kelly (dikutip oleh James, 2009) menjelaskan ada empat kemungkinan perspektif dalam mengajarkan isu kontroversial. Pertama, exclusive neutrality (tidak mengenalkan isu kontroversial dalam kelas). Kedua, exclusive partiality (memperkenalkan dan membela salah satu versi saja). Ketiga, neutral impartiality (memperkenalkan kontroversi, tetapi menghindar untuk menjelakan satu per satu versi). Keempat, commited impartiality (mengaitkan pembelajaran dengan mendiskusikan isu kontroversial dan menjelaskan satu per satu versi pada siswa). Pendekatan ke empat menjadi sikap yang seharusnya dipilih oleh guru.

Strategi yang dilakukan untuk mendukung sikap commited impartiality sangat beragam. Doug Harwood menjelaskan beberapa kemungkinan pendekatan (1) commited (guru mengekspersikan satu versi yang dipercayainya untuk didiskusikan); (2) objective (guru menjelaskan seluruh versi, tanpa mengemukakan pendapat pribadinya); (3) devil’s advocate (guru mengambil posisi yang berlawanan dengan pendapat siswa untuk memancing diskusi); (4) advocate (guru menampilkan seluruh versi dan menyimpulkan salah satu yang didukung dan mempersilakan siswa melakukan penilaian); (5) impartial chairperson (hampir sama dengan objective, hanya saja lebih berpusat pada siswa, di mana guru berperan untuk agar seluruh versi muncul dalam diskusi siswa); (6) declarated interest (guru menjelaskan salah satu versi untuk dikritisi oleh siswa melalui investigasi) (Global Citizenship Guides, 2006; Davies, 2007; Smith, 2010).

Dalam mengemukakan sikapnya, guru harus berpedoman pada beberapa prinsip. Prinsip tersebut adalah neutrality (tidak tendensius), balance (seimbang), dan reason (berdasarkan pada fakta yang jelas).

Taylor (dikutip Nuryatno, 2011) menjelaskan tiga tahap metode yakni naming, reflecting, dan acting. Tahap naming adalah tahap mempertanyakan atau mempermasalahan latar belakang sejarah kontroversial. Tahap ini menunjukkan keberagaman versi dalam sejarah. Oleh karena itu, guru harus memberikan kesempatan untuk mengemukakan beragam versi secara menyeluruh.

Tahap reflecting berarti proses penemuan sebab dari sebuah permasalahan. Dalam hal ini dipertanyakan mengapa versi-versi tersebut muncul. Pada tahap ini Ahmad (2010) merekomendasikan “strategi 4K”, yakni pembelajaran sejarah kontroversial yang menekankan aspek kausalitas (hubungan sebab akibat), kronologis (proses terjadinya peristiwa dan penulisannya), komprehensif (menghadirkan beragam versi secara meneluruh), dan kontinyuitas (mengaitkan dengan berbagai peristiwa lain, sesudahnya, serta beragam kepentingan dalam penulisannya).

Tahap ketiga adalah acting, yakni proses untuk menemukan alternatif pemecahan masalah. Pada tahap ini guru mempersilakan siswa untuk mengemukakan pendapat dan bertindak untuk saling menghargai perbedaan dalam upaya pemecahan masalah.

Agar pencapaian masing-masing tahap dapat tercapai secara optimal, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan dialogis dan kontekstual. Dalam hal ini proses untuk menemukan, memahami, menafsirkan, dan menerapkan pengetahuan dilakukan dengan cara saling memberi masukan dan mengaitkan dengan kondisi dan kepentingan yang dianggap sebagai faktor dominan penyebab munculnya masalah.

Secara teknis, ada beberapa metode pembelajaran yang direkomendasikan. Metode pembelajaran tersebut adalah diskusi, bermain peran (role playing) dan resource based learning (pembelajaran berbasis pada pencarian informasi, seperti inkuiri). Guru dapat menggunakan salah satu atau kombinasi ketiganya.

[tulisan ini adalah versi ringkas dari makalah yang dipresentasikan dalam seminar nasional Reformulasi Pembelajaran Sejarah di UNY, 3 Oktober 2012; daftar pustaka tidak ditampilkan]

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: