Pemuda, Kepahlawanan, dan Generasi Alay


  1. Semangat sumpah pemuda 84 tahun lalu hakikatnya satu, identitas yang padu. Identitas dipahami dalam berbagai sisi. Kesaman nasib dan penderitaan akibat penjajahan adalah identitas. Nasib yang sama bisa berarti sejarah yang sama, tempat tinggal yang sama, kondisi ekonomi yang sama, dan kesamaan-kesamaan lain, baik bawaan maupun ciptaan, menjadi prasyarat identitas. Bangsa juga bentuk identitas. Oleh karenanya, paham kebangsaan atau nasionalisme saya artikan sebagai kesadaran kolektif atas padu-kaitnya identitas. Begitu pentingnya identitas inilah yang mendorong kelompok-kelompok pemuda lintas budaya bersikap tentang bagaimana seharusnya masyarakat mengidentifikasi diri. Hal ini karena identitas bukan sesuatu yang diturunkan atau melekat begitu saja, melainkan pada apa yang dibangun.
  2. Identitas padu sebagai tujuan dari sumpah pemuda tampaknya saat ini mengalami tantangan yang serius. Pemuda saat ini agaknya sulit mengidentifikasi diri. Ada beberapa kemungkinan (1) boleh jadi karena tidak ada patokan identintitas seperti apa yang dijadikan panutan; (2) ketidakpedulian yang berkepanjangan, ketergiuran yang berlebihan, dan kelupaan yang berkelanjutan sebagai akibat kegagapan dalam menanggapi perubahan; (3) masifnya kampanye dan persaingan kepentingan kalangan pemegang kekuasaan.
  3. Banyak orang beranggapan bahwa kondisi yang terjadi saat ini adalah jiwa zaman yang tak bisa dielakkan. “Kondisi macam ini memang sedang trend” kata sebagian orang. Tetapi pernahkan kita sejenak merenung bahwa ternyata jiwa zaman yang melahirkan generasi alay bukanlah sebagai takdir, melainkan sebuah bentukan. Jiwa zaman memang dapat ditentukan oleh banyak hal. Kecenderungan kesamaan pemahaman diduga menjadi faktor yang mendorong terbentuknya satu jiwa zaman. Namun demikian, ternyata jiwa zaman tidak semata-mata ditentukan oleh orang yang hidup di dalamnya. Ia bisa dibentuk, disesuaikan, diarahkan untuk menghasilkan pola pikir yang seragam justru bukan dari masyarakat itu sendiri. Singkatnya, jiwa zaman telah dikondisikan. Pertanyaannya “oleh siapa, untuk apa, dengan cara bagaimana?” sehingga dengan mudah kita tiba-tiba telah terjerat dan terperosok sedalam-dalamnya.
  4. Adakah bahaya dari fenomena “alay-isme” itu? Menurut hemat saya, jawabanya hanya satu: krisis identitas merupakan satu strategi agar kita mudah dikuasai. Saya jadi teringat pada sebuah pernyataan bahwa “sebuah ideologi tidak akan bisa berkembang jika tidak didukung basis sosio-kultural masyarakat di mana ideologi itu akan berkembang”. Dengan kata lain, jika ingin menanamkan sebuah pola pikir baru, maka ciptakan kondisi yang mendukung. Pertanyaan yang layak kita diskusikan “pemikiran macam apa yang ingin ditanamkan jika pemuda telah dikondisikan sedemikian rupa seperti yang kita jumpai saat ini?”
  5. Perkembangan media massa sangat berperan dalam membentuk kondisi yang demikian. Televisi, face book, twitter, dan berbagai sarana lainnya kini lebih dipercaya dibandingkan manusianya. Kita telah tiba pada satu masa ketika informasi menjadi pemegang kendali dan media massa adalah segala-galanya. Menangnya Jokowi dalam pilkada DKI menjadi bukti dari semua ini. Artinya, siapa yang mampu mengendalikan media massa, dialah yang menguasai informasi. Kondisi ini menyiratkan pada kita bahwa begitu mudahnya masyarakat terbawa oleh suasana.
  6. Masalah lain muncul ketika kini kita tengah mengalami krisis terkait identitas dan jati diri terkait pahlawan yang telah kita miliki. Sampai tahun 2011 jumlah pahlawan nasional tidak kurang dari 156, konon sebagai yang terbanyak di dunia. Pertanyaannya “masih belum cukupkah teladan nyata yang kita punya” atau “begitu linglungkah kita hingga tidak mampu menjadikan pahlawan yang kita miliki sebagai teladan”.
  7. Nilai utama dari pahlawan adalah keteladanan, dan keteladanan adalah sebaik-baik pendidikan. Pahlawan tidak hanya diartikan sebagai seorang yang mendapatkan Surat Keputusan Presiden, tetapi tentang bagaimana memberikan kebaikan disertai keikhlasan. Inilah yang kiranya diperlukan untuk menyudahi krisis identitas yang kini kita alami.

Gedung IT Unnes, 6 November 2012: 06.15

Ini merupakan catatan diskusi dalam rangka Hari Pahlawan, di Rumah Buku Tapal Batas 6 November 2012

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

2 responses to “Pemuda, Kepahlawanan, dan Generasi Alay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: