Konservasi Budaya: Budaya Peduli, Peduli Budaya


Join Our Team

Banyak dari kita yang masih belum memahami makna konservasi. Ada yang menganggap konservasi hanyalah urusan pembuatan taman dan gerakan menanam. Ada pula yang beranggapan konservasi adalah urusan penataan parkir dan pengurangan kendaraan. Sebagian bahkan menganggap konservasi sebagai konservatif.

Konservasi bukan sekadar indahnya taman, hijaunya lingkungan, atau tertibnya kendaraan. Dalam konteks Universitas Konservasi, makna konservasi dipahami dalam ruang lingkup yang lebih luas. Konservasi dimaknai sebagai upaya perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Objeknya meliputi alam, lingkungan, dan budaya.

Budaya dan konservasi bukan hal yang saling bertentangan. Keduanya bisa dipadukan dalam terma konservasi budaya. Namun apa sebenarnya arti penting konservasi terhadap budaya?

Konservasi Budaya

Budaya dimaknai sebagai seperangkat gagasan, tindakan, dan karya yang dihasilkan. Dengan demikian, ia dipahami dalam dua pengertian: sebagai proses dan hasil. Karenanya, budaya bukan sekadar benda mati, melainkan kontinuitas manusia dalam mengembangkan kehidupan. Namun apakah sesuatu yang selalu berkembang dapat dikonservasi?

Konservasi budaya diibaratkan semprong. Alat dari bambu yang memiliki lubang di kedua ujungnya. Ibu-ibu biasa meniupkan angin melalui semprong agar bara bisa menyala. Tujuanya untuk menjaga nyala api perapian agar stabil saat memasak. Simpulannya, meniup api bukan untuk mematikan, melainkan memberikan aliran oksigen untuk tetap menjaga nyalanya. Laiknya semprong, konservasi budaya bekerja dengan cara yang hampir sama. Konservasi budaya bekerja dengan menjaga capaian dan proses kreatif di dalam budaya secara bersama-sama.

Konservasi budaya memiliki dimensi ke belakang dan ke depan. Dimensi ke belakang diwakili oleh proses perlindungan dan pengawetan terhadap kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat. Sementara itu, dimensi ke depan di-ejawantah-kan dengan menjaga keberlanjutan budaya.

Konservasi dapat bekerja dalam dinamisnya budaya. Ia berperan menjaga budaya agar tetap dinamis tanpa melupakan pondasi yang telah dibangun sebelumnya. Ini penting karena masyarakat kita tengah terserang oleh penyakit lena dan lupa.

Lena dan Lupa Budaya

Saat ini kita dihadapkan pada gelombang besar globalisasi. Derasnya informasi dunia bahkan dapat diakses dari kamar tidur kita. Namun dari aspek budaya, globalisasi justru cenderung menjadikan masyarakat semakin akultural. Ini karena pembauran budaya melalui beragam media tidak bisa lagi dihindari. Akibatnya kita bisa tertular penyakit lena dan lupa.

Lena dan lupa adalah gambaran nyata tenang ketidaksadaran dan ketidaktahuan. Dalam konteks budaya, jika lena dan lupa sudah terjadi, dapat dipastikan masyarakat akan tercerabut dari akar budayanya. Akibatnya, kita akan mengalami krisis budaya dan jati diri. Saya khawatir kelak banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan “siapa sebenarnya kita?”

Kini kita bisa temui berbagai gejalanya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebagian masyarakat sudah tidak mengetahui cara menggunakan bahasa daerahnya. Kita baru menyadari bahwa kita memiliki budaya saat negara lain mengatasnamakan budaya kita menjadi milik mereka.

Budaya Peduli, Peduli Budaya

Konservasi budaya diwujudkan dalam dua wujud. Wujud pertama konservasi budaya dengan menumbuhkan budaya peduli. Kedua, konservasi budaya diwujudkan dalam peduli budaya.

Apa bedanya budaya peduli dan peduli budaya? Dalam kacamata budaya, keduanya hakikatnya sama, hanya wujudnya yang berbeda. Budaya peduli, sering disebut ide atau gagasan, inti dari budaya. Sementara itu, peduli budaya adalah wujud yang kedua: aktivitas. Sebagian orang juga menyebutnya sistem sosial. Posisinya ada pada lapisan yang kedua setelah gagasan. Lalu apa jadinya jika kedua hal itu disatukan. Jika mereka dipadukan, maka akan terbentuk wujud budaya yang ketiga: artefak atau budaya fisik. Budaya fisik menjadi pertanda terwujudnya keharmonisan dan  keselarasan.

Budaya peduli diperlukan ketika kita ingin mewujudkan peduli budaya. Budaya peduli merupakan satu tatanan gagasan yang mendorong seseorang untuk merasa memiliki. Dalam pandangan Jawa, budaya peduli diartikan rumongso melu handarbeni. Peduli budaya diartikan kelanjutannya: melu hangrungkepi, mulat sariro hangroso wani. Melakukan pembelaan dengan pengorbanan dan keikhlasan, serta melakukan introspeksi dan refleksi atas tindakan yang kita lakukan.

Budaya peduli dan peduli budaya sebenarnya sederhana secara konsep. Ia bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian. Namun, maukah kita sekarang melakukannya agar tidak terjebak dalam lena dan lupa. Jawabannya ada pada diri pembaca. Di akhir tulisan ini saya hanya bisa berdoa secara sederhana “semoga Tuhan memberi pencerahan kepada kita”. [tsabit]

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: