Menyoal Gus Dur dalam Kenangan


gus dur

Tulisan ini ditulis pada tahun awal tahun 2010 dalam rangka diskusi mahasiswa PMII Komisariat Al Ghozali beberapa hari setelah Gus Dur Wafat. Barangkali postingan kali ini sebagai pengeling-eling, dan siapa tahu masih relevan untuk dijadikan bacaan agar kita tidak lupa. Tulisan ini terbagi atas dua bagian. Bagian pertama “Manis tapi Ironis” dan kedua “Belajar dari Tanda Tanya” yang ditulis untuk dua seri diskusi tentang Gus Dur.

I

Manis tapi Ironis

Seminggu setelah wafatnya K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, berbagai hal tentang sosok beliau masih hangat diperbincangkan. Media tidak henti-hentinya menayangkan ucapan bela sungkawa. Obituari tentang beliau pun banyak terpampang di lembaran-lembaran media massa. Singkatnya, hampir tidak ada yang tidak membicarakan Gus Dur dari berbagai sudut pandang.

Di berbagai kesempatan, bahkan diselenggarakan acara In Memoriam Gus Dur. Mulai dari teman dekat sampai orang-orang kecil yang pernah beruntung memiliki hubungan khusus dengan Gus Dur angkat bicara. Mereka memberi tanggapan dan gambaran tentang sosok Gus Dur dari sudut pandang masing-masing. Mengharukan tetapi menarik.

Diulasnya secara terus menerus tentang Gus Dur mengingatkan masyarakat tentang bagaimana sepak terjang dan peran serta beliau dalam mewujudkan Indonesia yang humanis. Dalam istilah Jawa, fenomena ini merupakan implementasi dari ajaran mikul dhuwur mendhem jero. Mengangkat dengan tinggi, mengubur dengan dalam. Mikul dhuwur yang bermakna memberikan penghormatan setinggi-tingginya inilah yang dicoba diangkat dalam berbagai acara dan tulisan di media. Ini merupakan sebuah kepedulian sekaligus sebuah penghormatan terhadap sosok yang telah tiada. Namun, di balik kemanisan penghargaan dan kepedulian, terdapat ironi yang menyedihkan tentang realita sebuah masyarakat.

Wafatnya Gus Dur menjadi satu pengalihan isu yang efektif bagi kasus-kasus besar. Kasus Century, kinerja pansus, sampai Gurita Cikeas untuk sementara reda. Ini karena media lebih tertarik untuk mengulas sosok Gus Dur yang lebih marketable. Ironis. Akan tetapi, ada hal yang lebih ironis di balik gemerlap serta gegap gempitanya media dalam mengulas tentang Gus Dur dan kepergiannya. Ironi itu bukan datang dari media. Bukan pula dari masyarakat yang menikmatinya. Lebih jauh lagi, ini berkait dengan mental dari semuanya. Gejala ini dikenal dengan istilah “keterlambatan”. Ya, keterlambatan.

Terus terang diakui bahwa setelah meninggalnya Gus Dur banyak informasi-informasi baru terkait dengan peran-peran yang dimainkan oleh Gus Dur. Informasi yang pada saat hidupnya kita tidak bisa mendapatkan. Tidak sedikit orang, termasuk saya, yang menjadi lebih terbuka matanya tentang Gus Dur dan berbagai perspektif yang menilainya. Tetapi sayang, jauh di dasar pemikiran muncul pertanyaan yang menyedihkan “mengapa baru sekarang?”. Penghormatan itu justru diberikan setelah yang bersangkutan telah berpulang. Ketika sosok beliau masih masih aktif memberikan pelajaran-pelajaran, sebagian orang justru tidak menghiraukan. Inilah wujud keterlambatan itu.

Gus Dur mungkin lebih beruntung daripada Sutan Syahrir. Salah satu triumvirat yang turut melahirkan Indonesia ini meninggal dalam status tahanan. Akan tetapi setelah meninggalnya, keesokan harinya Sukarno mengangkat Syahrir menjadi pahlawan nasional. Suatu bentuk penghargaan yang benar-benar mengalami keterlambatan. Mungkin saja Syahrir akan legowo dengan perlakuan ini, akan tetapi orang paling awam pun pasti akan tahu bahwa penghargaan kepada seseorang yang masih hidup akan lebih memberi sebuah penghormatan, daripada gemerlap bintang yang disematkan ketika ia telah tiada. Keduanya sama, semasa hidup banyak fitnah yang dilontarkan pada mereka, sehingga penghormatan masyarakat secara lebih luas baru muncul setelah keduanya meninggal. Apakah ini berarti bahwa begitu sulitnya kita memberikan penghargaan, sampai-sampai kita baru memberikannya setelah mereka meninggal. Gejala apakah ini sebenarnya?

Keterlambatan dan Harga sebuah Penghargaan

Beberapa puluh tahun yang lalu, Muchtar Lubis berpidato tentang mentalitas manusia Indonesia. Pertama, hipokrit, serta suka menyembunyikan yang dikehendakinya karena takut mendapat ganjaran yang merugikan dirinya. Kedua, segan dan enggan bertanggung jawab bahkan mengalihkan kepada orang lain. Ketiga, berjiwa feodalis, senang dipuji, serta takut dan tidak suka dikritik. Keempat, percaya pada tahayul dan senang mengeramatkan sesuatu. Kelima, berjiwa artistik dan sangat dekat dengan alam. Keenam, mempunyai watak yang lemah serta kurang kuat mempertahankan keyakinannya sekalipun benar, serta cenderung untuk meniru. Ketujuh, kurang sabar, cepat cemburu, dan dengki.

Namun demikian, pemikiran Muchtar Lubis itu perlu mendapat tambahan. Ada satu lagi mentalitas manusia Indonesia, yakni sulit untuk belajar dan susah dalam memberikan penghargaan, kalaupun dilakukan itu sudah termasuk dalam keterlambatan. Dan buruknya, keterlambatan itu biasanya diikuti dengan kelupaan. Ironis memang, tapi inilah kenyataannya. Walaupun ada istilah “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” penulis tetap tidak sepakat dengan istilah itu. Karena keterlambatan, berapa banyak pelajaran yang sudah ditinggalkan. Karena keterlambatan, ada hal-hal yang sulit didapatkan. Agar keterlambatan itu tidak membawa dampak yang negatif, ketelambatan harus dikejar. Mampukah kita?

Karena keterlambatan, ada banyak hal yang sebenarnya dapat diambil dari berbagai pelajaran yang diberikan oleh Gus Dur semasa beliau hidup, tetapi tidak didapatkan. Pertanyaannya, mengapa dukungan dan penghargaan pikiran-pikirannya itu justru datang ketika yang dihormati itu telah tiada? Keterlambatan itu telah masuk dalam proses kita untuk mencapai kesadaran. Sampai pada akhirnya, kehilangan itu telah menjadi pelajaran tentang bagaimana kita seharusnya menempatkan sebuah penghargaan. Simpati dan penghargaan itu jusrtu baru diberikan ketika sosok Gus Dur tidak lagi membutuhkan dukungan. Sebelumnya, kita terlalu acuh untuk itu. Dan ironisnya, kesadaran itu harus dibayar melalui sebuah kehilangan. Penghargaan yang harus ditebus dengan harga yang amat mahal

 II

Belajar dari Tanda Tanya

Waktu Gus Dur masih menjabat sebagai presiden, ada sebuah anekdot tentang sosoknya yang eksentrik. Boleh dikatakan sebagai pujian, tetapi lebih banyak ke arah sindiran. Katanya, “Saat ini ada satu lagi keajaiban dunia, selain tujuh keajaiban dunia yang ada. Keajaiban dunia yang ke delapan itu adalah Gus Dur”. Orang-orang boleh tertawa dengan pernyataan tersebut. Namun demikian, di balik tawa dan canda itu ada hal-hal yang sepatutnya diambil sebagai pelajaran yang amat berharga. Anekdot tersebut menyatakan bahwa Gus Dur masih dianggap sebagai sebuah fenomena yang tak habis-habisnya mencengangkan mata. Ia adalah tanda tanya. Suatu yang harus dijawab dengan menelah pemikiran-pemikirannya.

Anekdot tersebut, terlepas dari berbagai kepentingan yang melatarbelakanginya, sebenarnya adalah sebuah pengingat. Anekdot tersebut muncul karena banyaknya hal yang begitu tidak terduga yang dilakukan oleh Gus Dur semasa hidupnya, terutama ketika ia menjadi orang nomor wahid di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah karena faktor pemikirannya yang melampaui zamannya? Atau justru karena masyarakat kita yang telah begitu lamanya terlena, sehingga telah hilanglah nalar kritis dan semangat belajar?

Melihat dari Sisi Berbeda

Kehilangan telah membawa masyarakat pada sebuah pemahaman baru tentang arti sebuah eksistensi. Sebenarnya, kehilangan memiliki potensi bukan sebagai pereduksi dari eksistensi. Kehilangan justru menjadi penguat dari suatu eksistensi. Ini yang terjadi ketika kehilangan, betapapun perihnya itu, telah membawa pada satu kesadaran. Akan tetapi janganlah berpikir bahwa kehilangan adalah faktor satu-satunya yang menjadi penguat dari eksistensi. Ia justru menjadi pilihan terakhir dari banyak pilihan yang ada. Permasalahannya, mengapa justru pilihan terakhir ini yang dijalani?

Ketika seorang tokoh berpulang, justru muncul sebuah gerakan baru di kalangan masyarakat yang senantiasa memperjuangan pemikiran-pemikiran tokoh tersebut yang selama ini masih terpendam. Betapa banyak daftar nama tokoh yang justru setelah meninggalnya, warisan pemikiran dan gagasannya masih tetap diperjuangkan eksistensinya. Sukarno masih tetap eksis dengan marhaenismenya, dan semoga saja Gus Dur juga akan tetap eksis dengan pemikiran puralis-humanisnya. Kotak Pandora ternyata masih menyisakan sebuah kemanisan di tengah kecarut-marutan. Ia adalah harapan.

Munculnya semangat untuk mengangkat kembali dan melakukan penyegaran terhadap pemikiran-pemikiran Gus Dur boleh jadi sebagai sebuah upaya mengejar keterlambatan yang selama ini terjadi. Mungkin inilah yang diwariskan Gus Dur kepada kita. Dengan berbagai sikapnya yang baru kita pahami belakangan, menandakan bahwa kita masih terlalu mudahnya untuk memberikan sebuah penilaian. Padahal pada kenyataannya penilaian tersebut hanya dilatarbelakangi oleh pandangan-pandangan yang negatif tentang Gus Dur. Kita hanya bisa mengikut saja, tanpa terlebih dahulu memahami mengapa bersikap seperti itu. Ini menandakan bahwa sebagian kita telah terbawa pada keadaan ketika belajar dan mengamati secara mendalam tentag sebuah permasalahan menjadi hal yang menakutkan. Akibatnya, kekeliruan dan kesalahpahaman terhadap pemikiran dan sikap Gus Dur mewabah dalam masyarakat.

Gus Dur pada hakikatnya telah mengajarkan tentang sebuah “ketakterdugaan”. Ketakterdugaan ini muncul karena tiba-tiba saja kita tercengang dengan pemikiran kreatifnya atau sikap yang selama ini bahkan tidak terpikirkan sebelumnya oleh kita. Ini menunjukkan bahwa masih adanya gejala keterlambatan dalam berpikir pada masyarakat kita. Dan sayangnya ketakterdugaan itu ditanggapi dengan sinis, tanpa terlebih dahulu melakukan sebuah penelaahan. Mengapa menjadi sebuah ketakterdugaan dan membuat kita tercengang? Jawabannya adalah karena pada dasarnya hal yang dilakukan belum terpikirkan oleh sebagian besar dari kita. Ini dimungkinkan karena masih akutnya penyakit ketertinggalan dan keterlenaan kita, sehingga malas untuk melakukan pengkajian.

Gus Dur juga mengajarkan pada kita tentang betapa berharganya untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Pembelaannya terhadap kelompok minoritas, pemikiran-pemikirannya yang bersifat alternatif dalam membangun demokrasi Indonesia, gagasan-gagasannya yang genuine menunjukkan pentingnya konsep dalam melihat sebuah permasalahan dari sisi yang berbeda. Inilah pluralisme dalam hal pemikiran yang ia coba kembangkan untuk dijadikan sebuah teladan.

Belajar dari Kesederhanaan

Ketika banyak masalah yang ditanyakan kepada Gus Dur, masih lekat dalam pikiran kita sebuah jawaban yang amat populer dikemukakaknnya, gitu aja kok repot. Secara sepintas terkesan sebuah penyepelean. Namun demikian, pada dasarnya menunjukkan bahwa persoalan harus dilihat dengan sebuah kejernihan pikiran, dengan sebuah kesederhanaan. Karena pada dasarnya permasalahan berkembang karena ketidakmampuan dalam melihat akar permasalahan dengan jernih.

Ini pulalah yang mungkin ada pada pikiran Gus Dur ketika banyak tudingan bahkan cercaan ditujukan padanya. Ia mungkin tidak peduli dengan penghormatan. Ini mungkin juga cara agar ia tidak terjebak pada pengultusan. Karena pengultusan inilah Sukarno jatuh, dan Gus Dur tidak ingin seperti itu. Semuanya dipandang secara sederhana tanpa menghilangkan urgensi dari permasalahan yang ada.

Gus Dur memberikan suatu pembelajaran tentang makna sebuah ketakterdugaan. Ia adalah tanda tanya, yang menjadi tugas bagi kita untuk menjelaskannya. Untuk terus belajar dalam mengejar keterlambatan, keterlenaan, dan segala ketidaktahuan yang harus dijawab dengan adanya komprehensivitas dalam pemikiran, kontekstualitas dalam sikap, keterbukaan dalam kepribadian, dan kesederhanaan dalam kehidupan. Apakah ini yang kau wariskan pada kami, Gus? Ataukah ada hal lain yang kami masih belum bisa memahaminya?

Dalam ketenanganmu di sana, kau mungkin akan tertawa mengenai spekulasi-spekulasiku tentang warisamu itu sambil berkata “gitu aja kok repot…”. [tsabit]

About tsabit.azinar.ahmad

Tsabit Azinar Ahmad, dosen "unthul" di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Alumni Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Memiliki minat dalam bidang pendidikan sejarah, sejarah kontroversial, sejarah kebudayaan dan kesenian, serta pedadogik kritis. Lihat semua pos milik tsabit.azinar.ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: